Kota Hama di Suriah baru-baru ini menyaksikan kembalinya operasional Nawa’ir, kincir air bersejarah yang telah lama menjadi simbol kota. Fenomena ini menarik perhatian karena menyatukan aspek alam, sejarah, dan geopolitik yang kompleks.
Salah satu faktor penting yang memengaruhi operasional kincir Hama adalah debit Sungai Orontes. Sungai ini menjadi nyawa kota, karena airnya digunakan untuk menggerakkan roda kincir yang telah berusia ratusan tahun.
Sungai Orontes sendiri bersumber dari wilayah selatan Lebanon dan Bukit Golan, sebuah dataran tinggi strategis yang kini sebagian dikontrol Israel. Letak sumber air ini membuat setiap perubahan di hulu berdampak langsung ke Suriah tengah.
Sejak Perang Enam Hari 1967, Israel menguasai sebagian Bukit Golan, termasuk beberapa mata air yang penting bagi aliran Orontes. Hal ini menyebabkan Suriah kehilangan kendali langsung atas sumber air vitalnya.
Selain faktor politik, Israel membangun infrastruktur air di Golan, seperti bendungan kecil, saluran irigasi, dan sumur pompa. Pengaturan air ini kadang mengurangi debit yang mengalir ke Hama, terutama saat musim kering panjang.
Kondisi ini semakin diperparah oleh perubahan iklim di kawasan tersebut. Musim kemarau menjadi lebih panjang, sedangkan curah hujan musiman menjadi tidak menentu. Akibatnya, debit Orontes sering kali turun di bawah level minimum untuk menggerakkan kincir.
Beberapa bulan lalu, kincir Hama sempat berhenti berputar karena air sungai rendah. Warga kota merasakan hilangnya suara khas Nawa’ir yang telah menjadi bagian dari identitas budaya mereka.
Berhentinya kincir tidak hanya berdampak pada estetika dan budaya, tetapi juga mengingatkan akan ketergantungan manusia pada aliran air yang berasal dari wilayah geopolitik yang sensitif. Kincir Hama menjadi simbol rentannya Suriah terhadap faktor eksternal.
Sejarah kincir Hama sendiri sangat panjang. Sistem ini berasal dari era Romawi dan Bizantium, kemudian disempurnakan pada masa pemerintahan Islam. Roda kayu raksasa ini berfungsi mengangkat air sungai ke saluran irigasi kota dan kebun.
Kincir Hama bekerja berbeda dengan bendungan modern. Ia memanfaatkan arus alami sungai untuk memutar roda. Jika debit turun, roda berhenti; jika debit naik, roda kembali berputar. Sistem ini menunjukkan adaptasi cerdas terhadap kondisi hidrologi alami.
Ketika Israel menguasai Bukit Golan, Suriah kehilangan kemampuan untuk mengatur pelepasan air dari hulu. Selama musim kemarau, prioritas air diambil untuk irigasi dan kebutuhan domestik di wilayah Golan, sehingga debit ke Hama berkurang drastis.
Selain kontrol air Israel, faktor lain seperti pengambilan air berlebihan oleh pertanian hulu di Suriah dan Lebanon juga memengaruhi debit. Pendangkalan sungai akibat sedimentasi memperparah kondisi saat air terbatas.
Akibatnya, beberapa bulan lalu, permukaan Orontes di Hama turun di bawah ambang batas operasional Nawa’ir. Roda kincir tidak bisa berputar, dan suara khasnya menghilang dari kota, menimbulkan rasa kehilangan mendalam bagi warga.
Namun, kincir Hama tidak rusak secara permanen. Sistem ini dirancang untuk berhenti saat air rendah dan kembali beroperasi ketika debit meningkat. Itulah sebabnya hujan lebat baru-baru ini membuat roda-roda kembali berputar.
Kondisi ini menunjukkan hubungan kompleks antara geopolitik, alam, dan warisan budaya. Kincir Hama adalah simbol bagaimana faktor eksternal dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari, bahkan pada sistem kuno yang tampaknya sederhana.
Para pengamat menekankan pentingnya koordinasi lintas batas air. Tanpa kerja sama dengan wilayah hulu, baik di Lebanon maupun Bukit Golan, Hama tetap rentan terhadap fluktuasi debit sungai.
Fenomena ini juga membuka peluang untuk meningkatkan kesadaran akan pelestarian warisan budaya. Kincir Hama bukan hanya alat mekanis, tetapi simbol sejarah, identitas, dan ketahanan kota.
Masyarakat lokal berharap agar pengelolaan air lebih bijak dan perhatian internasional terhadap situs bersejarah meningkat. Kincir Hama yang kembali berputar memberi harapan bahwa budaya dan alam dapat hidup berdampingan.
Akhirnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kincir Hama, meski berusia berabad-abad, tetap terkait erat dengan kondisi geopolitik modern. Penguasaan Bukit Golan oleh Israel, faktor iklim, dan pengelolaan air semua memainkan peran penting dalam nasib simbol kota ini.
Dengan demikian, kembalinya Nawa’ir Hama berputar bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga refleksi hubungan manusia, politik, dan sejarah. Roda kayu yang berputar menghubungkan masa lalu, kini, dan tantangan masa depan kota Hama.

0 Comments