Kincir air bersejarah di kota Hama, Suriah, kembali beroperasi setelah sekian lama terhenti akibat rendahnya debit air Sungai Orontes. Fenomena ini menjadi perhatian luas karena menyatukan peristiwa alam dengan kebangkitan simbol budaya yang telah berusia ratusan tahun.
Kembalinya putaran kincir air, yang secara lokal dikenal sebagai Nawa’ir Hama, dipicu oleh meningkatnya curah hujan di wilayah barat dan utara Suriah. Hujan lebat tersebut membuat debit Sungai Orontes, atau Al-Asi, naik secara signifikan sehingga arus air kembali cukup kuat untuk menggerakkan roda-roda kayu raksasa itu.
Selama beberapa tahun terakhir, banyak kincir air di Hama hanya diam, menjadi saksi bisu perubahan iklim, pengelolaan air yang buruk, serta dampak panjang konflik yang melanda Suriah. Kondisi itu membuat suara khas kincir yang berderit pelan nyaris lenyap dari kehidupan sehari-hari warga kota.
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan momen saat kincir-kincir itu kembali berputar. Aliran sungai tampak deras, memantulkan cahaya matahari, sementara roda kayu berukuran besar bergerak perlahan namun pasti, menciptakan suasana yang dramatis dan penuh nostalgia.
Dalam tayangan tersebut, narator mengaitkan pemandangan Hama dengan puisi perjalanan Ibnu Batutah. Penjelajah Muslim abad ke-14 itu pernah menggambarkan taman-taman di sepanjang Sungai Orontes sebagai tempat yang indah, dengan kincir air yang berputar bagaikan benda-benda langit yang bergerak teratur.
Keindahan alam yang berpadu dengan warisan budaya menjadi daya tarik utama dalam video itu. Sungai yang kembali hidup memberi nuansa berbeda bagi kota Hama, yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan luka sejarah dan ketegangan politik.
Bagi warga setempat, berputarnya kembali Nawa’ir bukan sekadar peristiwa teknis. Banyak penduduk mengungkapkan rasa haru, gembira, dan bangga karena simbol kota mereka kembali menunjukkan kehidupan.
Suara khas kincir air yang berdecit dan berirama dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas Hama. Bagi generasi tua, suara itu membangkitkan kenangan masa kecil, sementara bagi generasi muda, ia menjadi penghubung langsung dengan sejarah panjang kota mereka.
Kincir air Hama memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Sistem ini telah ada sejak era Romawi dan Bizantium, lalu disempurnakan pada masa pemerintahan Islam, menjadikannya salah satu sistem pengangkatan air tertua yang masih dapat disaksikan hingga kini.
Berbeda dengan bendungan atau waduk besar, kincir Hama bekerja langsung dengan memanfaatkan arus sungai. Air Sungai Orontes memutar roda kayu, lalu diangkat ke saluran-saluran air untuk mengairi kebun dan kawasan permukiman.
Selama berabad-abad, sistem ini menjadi tulang punggung kehidupan ekonomi dan sosial kota. Pertanian, taman-taman kota, serta kebutuhan air masyarakat bergantung pada putaran kincir tersebut.
Makna kincir air Hama melampaui fungsi praktisnya. Ia telah lama dipandang sebagai simbol ketahanan dan kesinambungan, mencerminkan kemampuan kota ini bertahan melewati berbagai zaman dan kekuasaan.
Dalam konteks Suriah modern, kembalinya kincir air berputar juga dibaca sebagai simbol harapan. Di tengah upaya pemulihan pascakonflik, peristiwa ini memberi gambaran tentang kemungkinan kembalinya kehidupan normal, meski secara bertahap.
Namun demikian, para pengamat mengingatkan bahwa kondisi ini sangat bergantung pada faktor alam. Jika curah hujan kembali menurun atau pengelolaan air tidak membaik, kincir-kincir tersebut bisa kembali terhenti.
Ada pula kekhawatiran bahwa debit air yang terlalu besar justru dapat merusak struktur tua kincir dan kanalnya. Tanpa perawatan dan konservasi yang memadai, banjir bisa menjadi ancaman serius bagi situs bersejarah ini.
Pemerhati budaya menilai momen ini sebagai peluang penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan sejarah. Kincir Hama bukan hanya milik warga lokal, tetapi bagian dari warisan budaya dunia.
Kehadiran kembali Nawa’ir yang berfungsi juga berpotensi mendorong pariwisata domestik. Pemandangan kincir yang berputar di atas Sungai Orontes selalu menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Di media sosial, banyak warganet Suriah dan dari luar negeri membagikan ulang video tersebut sebagai simbol keindahan Suriah yang sering terlupakan. Narasi tentang budaya dan sejarah kembali muncul, menyaingi berita konflik yang selama ini mendominasi.
Fenomena alam yang sederhana ini akhirnya membuka ruang refleksi lebih luas tentang hubungan manusia, alam, dan sejarah. Air yang mengalir kembali tidak hanya menggerakkan kayu dan poros, tetapi juga memutar ingatan kolektif sebuah kota.
Kembalinya operasional kincir air Hama menunjukkan bahwa di tengah segala keterbatasan, jejak peradaban masa lalu masih memiliki tempat dalam kehidupan hari ini. Putaran Nawa’ir menjadi pengingat bahwa warisan sejarah bisa kembali hidup ketika alam dan manusia bertemu pada satu momentum yang tepat.
Baca selanjutnya

0 Comments