Kasus TPPO Judi Online

Sekolah Istana dan Kader Negara


Sekolah istana yang diperuntukkan bagi anak-anak raja Thailand pada abad ke-19 kerap dipandang sebagai lembaga pendidikan eksklusif yang lahir dari kebutuhan monarki menghadapi perubahan zaman. Meski berbeda bentuk dan konteks dengan institusi modern, sekolah ini memiliki fungsi strategis yang menarik untuk dibandingkan dengan lembaga pendidikan kader negara masa kini.

Dalam sejarah Thailand, terutama pada masa Raja Mongkut dan Raja Chulalongkorn, pendidikan anak-anak kerajaan bukan sekadar urusan akademik. Sekolah istana dirancang sebagai ruang pembentukan calon elite yang kelak akan mengisi posisi penting dalam pemerintahan, diplomasi, dan administrasi negara.

Anak-anak raja dan bangsawan tinggi dipersiapkan sejak dini untuk memegang tanggung jawab besar. Mereka dididik dalam disiplin istana, nilai loyalitas kepada negara dan takhta, serta pengetahuan yang dianggap penting untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas kerajaan.

Kurikulum sekolah istana pada masa itu mencerminkan upaya modernisasi. Selain pelajaran tradisional, mulai diperkenalkan bahasa asing, ilmu pengetahuan Barat, tata pemerintahan, dan pemahaman hubungan internasional.

Di sinilah letak kesamaan fungsional dengan lembaga seperti Akabri di Indonesia. Akabri sejak awal dibentuk untuk mencetak kader pemimpin yang akan mengisi jabatan strategis di tubuh negara, khususnya di bidang pertahanan dan keamanan.

Walau Akabri bersifat militer dan sekolah istana bersifat monarkis, keduanya sama-sama berfungsi sebagai mesin kaderisasi elite. Peserta didik bukan dipersiapkan untuk pasar kerja bebas, melainkan untuk posisi yang telah diproyeksikan oleh negara atau penguasa.

Perbedaan utama terletak pada basis legitimasi. Sekolah istana berangkat dari sistem dinasti dan darah bangsawan, sementara Akabri beroperasi dalam kerangka negara-bangsa modern dengan sistem seleksi terbuka.

Namun, dari sisi peran strategis, sekolah istana Thailand memiliki fungsi yang sejalan. Lulusannya diharapkan menjadi pengambil keputusan, pelaksana kebijakan, dan penjaga kepentingan negara di berbagai sektor penting.

Dalam konteks Indonesia, fungsi semacam ini tidak hanya dijalankan oleh Akabri. Negara modern membagi peran kaderisasi elite ke berbagai sekolah kedinasan sesuai bidangnya masing-masing.

Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), misalnya, disiapkan untuk mencetak kader birokrasi sipil yang akan mengisi jabatan strategis di pemerintahan daerah dan pusat. Fungsinya mirip dalam hal penempatan lulusan ke posisi yang sudah direncanakan.

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) juga memiliki pola serupa. Mahasiswanya dididik secara ketat untuk memenuhi kebutuhan negara di bidang keuangan dan fiskal, lalu ditempatkan langsung dalam struktur pemerintahan.

Dengan pola tersebut, negara modern secara sadar merancang jalur pendidikan tertentu sebagai saluran pengisian jabatan penting. Ini merupakan versi institusional dan birokratis dari apa yang dulu dilakukan oleh monarki melalui sekolah istana.

Sekolah anak-anak raja Thailand dapat dipahami sebagai bentuk awal dari sistem kaderisasi itu. Bedanya, pengelolaan sepenuhnya berada di bawah otoritas raja, bukan lembaga negara yang terpisah.

Fungsi ideologis juga menjadi benang merah. Baik sekolah istana maupun Akabri dan sekolah kedinasan modern, sama-sama menanamkan loyalitas, disiplin, serta cara pandang yang selaras dengan kepentingan penguasa atau negara.

Dalam sekolah istana, loyalitas diarahkan pada raja dan kerajaan. Dalam Akabri dan IPDN, loyalitas diarahkan pada konstitusi, negara, dan sistem pemerintahan yang berlaku.

Meski berbeda zaman, konteks, dan sistem politik, tujuan akhirnya serupa. Pendidikan dijadikan alat untuk memastikan kesinambungan kekuasaan, stabilitas, dan keberlangsungan struktur negara.

Karena itu, menyebut sekolah anak-anak raja Thailand memiliki fungsi serupa dengan Akabri bukanlah penyederhanaan yang keliru. Kesamaannya terletak pada peran strategis, bukan pada bentuk atau kurikulumnya.

Sekolah istana tidak mencetak perwira militer profesional seperti Akabri. Namun, ia mencetak elite penguasa yang memahami cara mengelola negara, kekuasaan, dan hubungan dengan dunia luar.

Dalam perspektif sejarah, sekolah istana Thailand dapat dilihat sebagai nenek moyang konseptual dari berbagai sekolah kader negara modern. Sistemnya kemudian berevolusi seiring perubahan monarki menjadi negara modern.

Dengan demikian, meski tidak sama secara struktural, sekolah istana anak-anak raja Thailand tetap dapat dipahami memiliki fungsi yang sejalan dengan Akabri, IPDN, STAN, dan sekolah kedinasan lainnya, yakni mempersiapkan kelompok terpilih untuk mengisi jabatan-jabatan kunci dalam negara.

0 Comments