breaking

&Sabu

&Sabu

&Networks

&Networks

&Criminality

&Criminality

Dijanjikan Pelayan, Dipaksa jadi Budak Seks

Share This

Kamis, 28 Juni 2007
JODOH, METRO: Lisa (nama samaran), tak menyangka bakal jadi budak seks di negeri orang. Wanita berusia 30 tahun itu, awalnya dijanjikan sebagai pelayan restoran. Tekadnya untuk merubah nasib, membuatnya nekad terbang dari Bandung ke Malaysia lima bulan lalu. Dengan wajah murung, Lisa curhat ke POSMETRO, di tempat kosnya di Komplek Perumahan Jodoh Permai, Selasa (26/6) siang. Dengan mata sayu, wanita kuning langsat itu berbagi derita. "Buat saya yang sudah terjadi akan saya jadikan pelajaran berharga untuk diri saya dan anak saya ke depan," ucap wanita beranak satu itu, lirih.

Lisa sebenarnya sudah bekerja di sebuah restoran di Bandung, Jawa Barat, usai cerai dengan suaminya. Tapi, ia tertarik untuk kerja di negeri tetangga karena bujukan dua temannya. "Saya juga berpikir kalau kerja saya di Bandung, dengan gaji sejuta (Rp1 juta), dan uang tips minimal cepek (Rp100 ribu), apalagi di luar negeri kan," kenang Lisa.

Pemikiran itulah yang kemudian membuatnya nekad ke Malaysia. Bersama dua wanita, temannya, Lisa dijanjikan kerja sebagai pelayan restoran. "Saya nggak tahu namanya (PJTKI). Saya juga nggak tahu nama orangnya (yang membaanya). Pokoknya saya berangkat sama dua temannya saya. Mereka masih di sana (Malaysia)," ungkap wanita berbadan sintal itu.

Sampai di Malaysia, Lisa disuruh bekerja di tempat sejenis pub atau karaoke. "Tapi, di dalamnya bukan karaoke. Cuma formalitas saja," terangnya.

Lisa menyaksikan beberapa karyawan harus melayani lelaki hidung belang. Ia juga dipaksa menjadi budak seks. "Saya pertama berontak. Tapi, saya dipaksa melakukan itu. Katanya untuk membayar hutang saya. Karena saya sudah dijual sama orang yang membawa saya ke sana (Malaysia), katanya," ucap Lisa.
Lisa pun terpaksa menjadi pekerja seks komersil (PSK) di Malaysia. "Banyak teman-teman (karyawan lain) yang dipaksa melayani tiga sampai lima orang (pria). Saya juga sering dipaksa tapi saya menolak. Saya bilang tak biasa," lanjutnya.

Sudah satu setengah bulan ia jalani pekerjaan melayani pria hidung belang. Mendadak Lisa jatuh sakit. Kanker di rahim membuatnya sering jatuh pingsan. Ternyata penyakit itulah yang memberi hikmah besar buat wanita kuning langsat itu. Ia diijinkan pulang ke Indonesia untuk berobat.

Dalam kondisi lemah dan sering pingsan, Lisa berjuang sendirian untuk sampai ke Batam. Di Pelabuhan Malaysia, ia menaiki kursi roda hingga sampai ke Batam. "Saya cuma pakai baju tidur dan celana pendek, sandal jepit. Banyak yang ngira saya orang gila," kenangnya.

Sampai di Batam, Lisa langsung ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK). Di rumah sakit itu, ia kemudian menjalani operasi di perutnya. "Tak ada teman, tak ada saudara yang tanda tangan saya harus dioperasi. Tapi, dokter akhirnya putuskan saya harus dioperasi karena kondisi saya sudah berbahaya. Terlambat sedikit, mungkin saya sudah mati," tukasnya. "Yang membiayai saya berobat, Pak Hartono. Orang paroh baya. Dia mantan tamuku di Malaysia. Saya sangat berterima kasih sama dia," timpalnya. "Minggu depan saya harus pulang ke Bandung," ucapnya lagi. (for)

About media

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments: