Thursday, February 23, 2006

WNI Turunan Kendalikan Illegal Logging

. Thursday, February 23, 2006
0 komentar

Jakarta, WASPADA Online

Maraknya kasus penebangan hutan, terutama kayu jati secara liar (illegal logging) ternyata lebih banyak dikendalikan para WNI keturunan. "Ternyata para WNI keturunan selama ini berperan mengendalikan para penjarah hutan," kata Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Anton Bachrul Alam, di Jakarta, Selasa (21/2).

Menurut dia, dari 500 tersangka ditangkap dalam Operasi Lestari III selama 20 Januari hingga 20 Februari 2006 terdapat sejumlah nama WNI keturunan. Dari sejumlah nama WNI keturunan itu, terdapat beberapa nama yang ditangkap di wilayah hukum Polda Jawa Timur, yakni Mucen alias Suyanto ditangkap di Jember, Agus Suwantono ditangkap di Madiun dan Suwito ditangkap di Bojonegoro.

"Di Bojonegoro ini ada warga satu kampung dikoordinir Suwito untuk melakukan pencurian-pencurian kayu. Alhamdulillah semuanya berhasil kami tangkap," ujarnya. Namun demikian, lanjut Anton, dari beberapa nama WNI keturunan hanya Mucen yang merupakan cukong kelas kakap kasus tersebut.

"Dari hasil operasi ini pula, kami menemukan ternyata para WNI keturunan ini yang sebenarnya menikmati hutan kayu jati," tambahnya. Saat ditanya mengenai keterlibatan oknum aparat dalam kasus tersebut sehingga dengan leluasa para cukong beroperasi, menurut Anton, sangat mungkin terjadi. "Memang ada indikasi para cukong ini bekerjasama dengan oknum Perhutani, tetapi kami masih terus menyelidikinya," ujarnya. (j02/ant)


22 Feb 06 00:06 WIBPolisi Tangkap 4,5 Kg SS Asal China
Jakarta, WASPADA Online

Polres Bandara Soekarno-Hatta menyita 4,575 kg shabu-shabu di dalam mainan anak-anak didatangkan dari Guangzhou, China dan menangkap satu orang dicurigai menjadi perantara paket itu. "Shabu-shabu ini diselipkan di dalam mainan anak-anak berbentuk pesawat terbang remote control. Mainan anak-anak ini disimpan di kontainer dikirim perusahaan kargo DHL," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol I Ketut Untung Yoga Ana di Jakarta, Selasa (21/2).

Dia mengatakan, polisi masih memeriksa AP, yang diduga menjadi orang terlibat dalam pengiriman zat psikotropika. "Kontainer itu diterbangkan dari Guangzhou ke Indonesia lewat Hongkong. Dari mana narkoba diterbangkan, ini yang masih ditelusuri polisi," ujarnya.

Penyitaan bermula dari kecurigaan petugas Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta terhadap kontainer turun dari pesawat kargo milik DHL. Dalam pemeriksaan, petugas menemukan SS di sela-sela mainan anak-anak dan penemuan barang terlarang dilaporkan ke Polres setempat. (j02/ant) Selengkapnya...

Saturday, February 11, 2006

Sugianto K; Ular Berbulu Musang; an IndoMafiaGodFather

. Saturday, February 11, 2006
1 komentar

Aguan yang memakai nama Sugianto Kusuma ini dikenal sebagai dedengkot Naga di Indonesia oleh berbagai kalangan. Bahkan media menggelarnya sebagai anggota Mafia Naga Sembilan. Jurusnya tidak kalah lihai; mengendap, diam-diam, sering di belakang layar tapi target sudah di kendalikan. Main area bos ini adalah: Money Laundering.

Bos JIHD ini sekarang melindungi bau kotor tubuhnya dengan mantel dengan kedok sebagai pengurus sebuah organisasi sosial agama tertentu. Sekilas orang akan melihatnya sebagai "paus" si juru selamat.

Bagaimana operandi JIHD?? berikut sekilas;

JAKARTA (BURSA) -- Dalam enam bulan terakhir ini beberapa media di Jakarta emberitakan mengenai masuknya Dragon Bank International ke Indonesia. Bank yang berpusat di Vanuatu tersebut termasuk salah satu lembaga keuangan yang mengelola "uang haram" setelah menerima pemutihan uang (money laundering) dan salah satu pemiliknya adalah PT Yayasan Harapan Kita milik keluarga Presiden Soeharto.

Bank tersebut dalam beberapa eksposenya mempunyai rencana ekspansi yang spektakuler. Perusahaan tersebut kini sedang menyiapkan proyek telekomunikasi senilai US$4 miliar (sekitar Rp 8,5 triliun) serta sebuah kawasan bisnis di daerah Kota di Jakarta dengan investasi sedikitnya Rp 8,3 triliun.

Masuknya Dragon Bank serta rencana ekspansi bisnis di Indonesia sempat mengundang pertanyaan beberapa kalangan. Misalnya, mengapa izin membuka cabang bank tersebut melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bukan melalui Departemen Keuangan.

Ketika pihak kepolisian serta lembaga terkait mencoba menyelidiki, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Pihak Dragon Bank mengatakan bahwa mereka masuk ke Indonesia tidak untuk menjalankan bisnis perbankan seperti biasa, tetapi merupakan perusahaan investasi sehingga izinnya diperoleh dari BKPM.

Departemen Keuangan maupun Kepolisian memang tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, mereka mengetahui bahwa Dragon Bank masuk ke Indonesia sebagai hasil kerjasama dengan PT Harapan Insani, salah satu anak perusahaan Yayasan Harapan Kita milik keluarga Soeharto.

Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Soedradjat Djiwandono sejauh ini menolak untuk memberikan tanggapan atas kehadiran Dragon Bank di Indonesia.

Tetapi sumber-sumber kalangan keuangan di Jakarta mengatakan bahwa Soedradjat Djiwandono terpaksa mengabulkan permintaan pencabutan blokir deposito salah seorang eksekutif Dragon Bank Yee Mei Mei oleh Standard Chartered Bank Cabang Jakarta, setelah Yayasan Harapan Kita turun tangan menyelesaikan kasus tersebut.

Pengelola PT Harapan Insani adalah Ibnu Widojo salah seorang adik almarhumah Tien Soeharto. Sedangkan Presiden Dragon Bank adalah Wang Zhi Ying warganegara Malaysia yang sekarang menghabiskan waktunya lebih banyak di Jakarta dan berkantor di Lantai 24, Menara Mulia, Jl. Gatot Subroto, Jakarta.

Akhir Mei lalu, PT Harapan Insani dan Dragon Bank membangun resort di Kepulauan Langkawi, Malaysia dengan investasi Rp 200 miliar. Acara penandatangan kerjasama antara Mara Holding (Malaysia) dengan Dragon Bank dan PT Harapan Insani itu disaksikan langsung oleh Menteri Keuangan Republik Vanuatu Barak T. Sope dan, dari pihak Indonesia, Ketua Umum Kosgoro Bambang Soeharto dan Ketua Generasi Muda Kosgoro Maulana Isman.

Para pejabat tinggi Vanuatu, kelihatannya sangat berkepentingan untuk menjaga keberadaan Dragon Bank di luar negeri, khususnya di Indonesia. Ini kelihatan ketika mereka berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu, menyempatkan hadir di kantor cabang Dragon Bank di Menara Mulia.

Sebuah sumber resmi yang enggan disebutkan identitasnya, mengatakan keberadaan Dragon Bank di Indonesia bukan hanya dalam rangka kerjasama dengan PT Harapan Insani. "Sebagian besar saham bank tersebut dimiliki oleh Yayasan Harapan Kita," katanya.

Boleh jadi apa yang dikatakan sumber tadi benar. Sebab jaringan bisnis keluarga Soeharto, khususnya yang berada di bawah pengawasan Yayasan Harapan Kita belum banyak yang mengetahuinya, selain Rumah Sakit Harapan Kita..

Selain proyek telekomunikasi dan properti yang sedang disiapkan, Dragon Bank dan PT Harapan Insani dalam waktu dekat akan melebarkan bisnis keuangan dengan mendirikan lembaga sekuritas. "Keluarga Soeharto memang sedang mengincar bisnis di pasar modal karena prospeknya sangat baik," sumber tersebut menambahkan.

Dragon Bank International sendiri sudah beberapa tahun ini sedang diamati antara lain oleh Interpol Hongkong karena praktek pemutihan uang yang dilakukannya. Bahkan, beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman dan Perancis memasukkan Dragon Bank dalam daftar hitam.

Money laundering adalah upaya legalisasi uang yang biasanya berasal dari bisnis narkotika, mafia atau korupsi. Indonesia termasuk negara yang mengizinkan masuknya dana dari pemutihan uang karena menganut rezim devisa bebas.

Isu pemutihan uang muncul ke permukaan pada 1991 ketika PT Jakarta International Hotel & Development (JIHD) membangun Sudirman Central Business District seluas 45 ha dengan investasi sekitar Rp 7,5 triliun. Perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pengusaha Tomi Winata dan Sugianto Kusuma itu mengatakan bahwa untuk membangun proyek itu mereka tidak membutuhkan pinjaman bank karena memiliki ekuiti (modal sendiri) yang sangat besar.

Menurut pengakuan Tomi Winata ketika terungkap kasus share swap PT JIHD terhadap PT Danayasa Arthatama, dia mendapat dukungan dari Taiwan, Hongkong dan Jepang. Dia menyebut antara lain keberadaan Triad dan Yakuza dalam ekspansi Artha Graha Group di Indonesia.

Pihak militer di Indonesia, khususnya Angkatan Darat sebenarnya mengetahui dan memberikan legalitas atas praktek bisnis Tomi Winata. Ini terlihat dengan masuknya Yayasan Kartika Eka Paksi dalam beberapa proyek dan bisnis Tomi, seperti SCBD dan Bank Artha Graha. Selengkapnya...

Alih Generasi; Pemain Baru

TRIHATMA K Haliman terdiam sejenak tatkala ditanya apakah ia memang dipersiapkan ayahnya, almarhum Anton Haliman, untuk menyambung estafet kepemimpinan di Grup Agung Podomoro.

Ia menyebutkan, ayahnya sangat bisa membedakan hubungan ayah anak dengan pekerjaan. Di rumah, Trihatma dan saudara-saudaranya benar-benar mendapat curahan kasih sayang. Namun di lapangan, almarhum tidak membeda-bedakan. Anak-anaknya disamakan dengan karyawan lain. Kami disuruh belajar habis-habisan di lapangan, mulai dari strata terbawah.

"Mungkin itu salah satu faktor yang memberi kami pemahaman yang dalam tentang profesionalisme," kata Trihatma. Pria berusia setengah baya ini mengungkapkan kebahagiaannya karena pernah melalui pendidikan keras dari ayahandanya.

Trihatma merupakan salah satu contoh dan tipikal dari generasi kedua di dunia bisnis Indonesia yang mengawali kariernya dari level terbawah. Ia kemudian tidak saja ikut mengemudikan perusahaan yang ditinggalkan ayahnya, tetapi melebarkan sayap melalui pengembangan banyak megaproyek properti. Padahal, "gebrakan menentukan" Trihatma praktis baru dilakukan dalam dua atau tiga tahun terakhir. Namun, mungkin inilah yang kemudian membuat Trihatma "dipandang" oleh para pemain properti lainnya.

TERDAPAT banyak generasi kedua usahawan Indonesia, termasuk di bidang properti, yang menunjukkan kinerja mapan seperti Trihatma, di antaranya Jan Darmadi, pengembang senior yang dua dasa warsa lalu bahkan sudah membangun gedung pencakar langit di Jalan MH Thamrin dan HR Rasuna Said. Jan, putra seorang usahawan tekstil di Pintu Kecil, kini menggebrak pasar properti Indonesia dengan beberapa megaproyek properti di Jakarta, termasuk sejumlah hotel.

Usahawan generasi kedua lainnya yang mempunyai kinerja mengilap ialah Muchtar Widjaja, salah seorang putra pendiri Grup Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja. Muchtar kini memimpin PT Duta Pertiwi Tbk. Muchtar kerap disebut sebagai salah seorang pencetus trade center. Trade center-nya a yang fenomenal, karena demikian laris dan nilai asetnya makin mahal, adalah ITC Mangga Dua.

Budiarsa Sastrawinata-Rina Ciputra, mantu dan anak sulung usahawan properti Ciputra, juga masuk dalam kelompok generasi kedua itu. Budiarsa pernah memimpin Bumi Serpong Damai (BSD) cukup lama. Ia kini memegang sejumlah proyek perumahan Grup Ciputra dan megaproyek properti di Hanoi, Vietnam. Sementara Rina, yang juga memegang proyek perumahan, mendirikan Century 21 di Indonesia. Anak-anak Ciputra yang lain, di antaranya Yunita dan Cakra juga menunjukkan talenta yang tinggi dalam memimpin perusahaan.

Eiffle dan Irene Tedja, juga termasuk generasi kedua yang mempunyai kinerja menawan. Menjadikan Surabaya sebagai pusat kegiatan bisnis, putra dan putri pasangan pebisnis properti Alexander dan Melinda Tedja ini menyertai orang tuanya membangun sejumlah proyek besar di Surabaya di antaranya Tunjungan Plaza, apartemen, Sheraton, Pakuwon Trade Center, dan Supermal Pakuwon.

Dua anak muda yang masing-masing berusia 27 tahun dan 23 tahun ini masih sering terlihat di proyek mereka pada pukul 07.00 dan pukul 22.00.

Pebisnis generasi kedua lainnya, yang menunjukkan kinerja bagus adalah anak-anak Sugianto Kesuma. Sugianto yang disertai anak-anaknya membangun beberapa proyek besar di antaranya Dharmawangsa Square, Kelapa Gading Square, dan Mangga Dua Square (share dengan pemain properti lain).

Dalam beberapa kasus, generasi kedua pebisnis Indonesia, sesekali dipandang dari sudut pandang sinisme. Ini karena mereka kerap kali "menghabiskan" atau "membelanjakan" uang hasil keringat ayahnya, sang generasi pertama.

Namun, dalam kasus generasi kedua pebisnis properti Indonesia malah mempunyai "kurs" amat tinggi karena mampu membangun proyek-proyek fenomenal, yang menjadi trend properti, bukan saja di Indonesia, melainkan setidaknya di Asia Tenggara.

HAL yang sungguh menarik ditunggu ialah bagaimana putra-putra generasi kedua tersebut bertarung dalam sebuah kompetisi bisnis yang amat ketat. Siapa yang paling mampu menunjukkan kemampuan, paling bisa mengendalikan rentang bisnis yang amat lebar, atau siapa yang berjalan di depan dalam hal ide-ide brilian.

Aspek menarik lain untuk diamati dari kompetisi bisnis properti di Indonesia ialah betapa generasi kedua ini mampu menyelusup di antara banyak pemain besar properti. Mereka bahkan menjadi pemain-pemain yang andal.

Pengamat dan konsultan properti, Panangian Simanungkalit, bahkan berani menyatakan bahwa pemain properti terkuat di Indonesia hari-hari ini ialah Trihatma Haliman. Ukuran Simanungkalit, antara lain, ialah besaran nilai proyek atau besaran kapitalisasi pasar yang dihasilkan.

"Kalau saya tak salah hitung, Trihatma dan grupnya tengah mengerjakan proyek senilai delapan triliun rupiah, sebagian besar di Jakarta. Ia praktis berada di papan atas pebisnis properti Indonesia, sekarang ini," tutur Panangian Simanungkalit.

"Kapitalisasi sebesar itu, sungguh bukan angka main-main, ibarat investor besar dunia datang ke Indonesia menanamkan sahamnya," kata Simanungkalit menambahkan.

Megaproyek Trihatma (sebagian share dengan usahawan lain) di antaranya ialah Mangga Dua Square, Plaza Semanggi, The Pakubuwono Residence, apartemen Tanjung Duren, Menteng, Gading Mediterania, dan Permata Mediterania. Proyek terbarunya di Jalan Sudirman, Jakarta, The Peak, akan menjadi gedung kembar tertinggi di Indonesia, masing-masing 55 lantai.
Sedikit di bawah Trihatma Haliman terdapat sederet pemain besar properti dengan nilai proyek atau kapitalisasi dana antara empat sampai enam triliun rupiah. Mereka adalah Jan Darmadi yang bermain di proyek-proyek hotel bintang lima, gedung-gedung perkantoran, Mega Kebon Jeruk, Setia Budi Atrium, dan sebagainya.

Lalu Gunarso dari Grup Gapura Prima, yang membangun 13 proyek besar. Ia di antaranya membangun The Bellezza Permata Hijau, The Bellagio (Residence dan Mansion), Serpong Town Square, Sugianto Kusuma yang di antaranya bermain di SCBD, Mangga Dua, dan Kelapa Gading.
Pemain properti lain yang berada di lingkungan proyek empat sampai enam triliun rupiah ialah Tan Kian, yang di antaranya bermain di wilayah Mega Kuningan, JW Marriot, dan Ritz Carlton. PT Duta Pertiwi, Muchtar Widjaja, dan kawan-kawan yang berjalan di depan dalam hal pusat perdagangan.

Kemudian Alex dan Melinda Tedja dari Pakuwon Jati yang membangun Tunjungan Plaza (I-IV), Sheraton, Pakuwon Trade Center, Supermal, dan sebagainya. Grup Ciputra yang bangkit lagi dengan membangun sejumlah proyek di Surabaya, Jakarta, dan Hanoi.

SISI lain yang menarik diamati dari para pemain properti tersebut ialah sikap diam dan tidak ingin muncul dalam pusat pemberitaan media massa. Mereka lebih suka bertarung dalam diam.
Salah seorang pemain senior properti yang enggan disebut namanya menyebutkan, ia dan pemain properti lainnya enggan muncul di media massa, simply, karena pemain di bisnis ini tidak suka menonjolkan diri. "Kami lebih suka menggebrak pasar properti dengan proyek-proyek layak jual," kata pemain senior properti ini. "Kepuasan pemain properti terletak di situ, bukan publisitasnya," katanya menambahkan.

Seorang lagi, masih berusia 27 tahun, master dari Amerika Serikat, anak dari salah seorang raja properti Indonesia, menyatakan, ia tidak suka muncul di pentas publik karena merasa apa yang dilakukannya masih jauh dari ukuran sukses. "Karena itu, please, jangan dulu sebut nama saya. Saya malu pada leluhur karena masih begini saja," ujar anak muda yang berwajah ganteng ini. Tentu saja ia merendah sebab ayahnya mempercayakan ia mengemudikan aneka proyek dengan skala investasi hampir dua triliun rupiah.

TERLEPAS dari pelbagai masalah tersebut, tidak ada salahnya jika para pemain properti ini, tidak selalu berdiri sendiri. Ada baiknya untuk satu dua proyek prestisius, mereka bergabung dalam sebuah konsorsium besar untuk mendirikan, misalnya, gedung tertinggi di dunia, sebagaimana dikerjakan Taiwan tahun lalu.

Proyek The Peak, misalnya, daripada membangun dua menara setinggi 55 lantai, mengapa tidak terpikirkan untuk membangun satu menara saja, setinggi 110 lantai?

Sejumlah usahawan pernah bersama-sama hendak membangun menara tertinggi di dunia, di bekas bandara Kemayoran. Akan tetapi, ketika baru mencapai tahap penyelesaian fondasi, pembangunan menara itu terhenti akibat krisis ekonomi yang hebat. Mungkin baik kalau proyek itu ditinjau untuk dibangun kembali.

Tidak ada salahnya jika masalah mega proyek ini menjadi bahan pemikiran bersama. (ABUN SANDA). Selengkapnya...

Jaringan Mafia Cina Indon di AS; Bidang Pemalsuan

KANTOR Organisasi Masyarakat China Indonesia di Amerika (CIAS) berlokasi di 6155 Pohick Station Deive, Fairfax Station, Virginia. Biro jasa ini melayani pengurusan suaka, kartu tanda pengenal, SIM, kartu hijau, dan paspor Amerika.

Gedung CIAS juga menjadi tempat tinggal Hans Gouw dan Isnayanti Gouw, istrinya.Sejak September 2000, CIAS sering memasang iklan di majalah Indonesian Journal yang terbit di Fontana, California, dan Indonesia Media, terbitan Glendora, California. CIAS punya perwakilan di seluruh Amerika dengan pimpinan cabang masing-masing.

Misalnya, Jenny Gandasaputra di kawasan Pantai Timur, Lestari Nugroho di Pantai Barat, Herlina Suherman di Mid West, dan Willy Irsan serta Raymond Marschall, Direktur Urusan Keanggotaan CIAS. Ada empat lembaga lain yang punya bisnis sejenis.

Mereka adalah Asian American Placement Services (AAPS), Kumala Nusantara, Petra International, dan Chinese Indonesian Pribumi Community Services (CIPCS). AAPS adalah kantor jasa pengurusan asilum dan imigrasi bagi pendatang Indonesia, berkantor di 6003 Captain Marr Court, Fairfax Station, Virginia. Sejak Agustus 2001, lembaga ini selalu memasang iklan di majalah Indonesian Journal dan Indonesia Media yang terbit di Virginia.

Dalam iklannya, AAPS bisa menyediakan jasa asilum, pengurusan kartu hijau, visa Amerika dan Kanada, serta mengurus izin menyopir di Amerika. Semua permintaan akan ditangani langsung oleh Mega G. Saputra alias Megawaty Gandasaputra, 46 tahun, yang suaka politiknya dikabulkan pada 1999. Ia dibantu suaminya, Michael Wright, 43 tahun, warga Amerika.Kumala Nusantara atau dikenal dengan KN atau K-Nusantara Service Inc berkedudukan di 6155 Pohick Station Drive, Fairfax Station, Virginia. Gedung yang ditempati adalah bekas kantor CIAS, sekaligus markas Hans Gouw. Kantor jasa yang melayani asilum, pembuatan kartu identitas, SIM, dan sebagainya ini dikelola Nany Kumala. Ia pernah bekerja di CIAS sampai November 2003.

Petra International yang berlokasi di Great Tree Court, Fairfax, Virginia, adalah tempat tinggal Jenny Gandasaputra dan Herman Tanudjaja. Bisnisnya ekspor-impor barang-barang Amerika. Pada 13 Maret 2003, Jenny menjual rumah ini ke Isnayanti Gouw seharga US$ 338.000. Pada 22 Desember 2003, Gouw memberikan bangunan itu sebagai hadiah pada Jenny.CIPCS berlokasi di 7800 Delano Court, Manassas, Virginia. Alamat ini sekaligus menjadi rumah tinggal pemiliknya, Silvy Karageorge alias Silvy Waluyo alias Silvy Rodriguez alias Silvy Tjandratanaja, warga Amerika berusia 47 tahun.

Kelima perusahaan yang dituduh sebagai jaringan pemalsu dokumen imigrasi itu digerakkan sejumlah tokohnya. Mereka kini ditahan Pemerintah Amerika Serikat. Di antara mereka yang ditahan itu adalah:

Hans Gouw:HANS Gouw, yang juga dikenal dengan nama Liong Hoat Gouw atau Hady Gandasaputra, warga negara Indonesia berusia 53 tahun. Pria yang lahir di Indonesia, 12 Maret 1951, ini dikabulkan permohonan suakanya pada 22 Juli 1999.

Sekarang Hans sedang dalam proses menunggu perubahan statusnya menjadi permanent resident atau pemegang kartu hijau. Ia menjabat sebagai Direktur Umum CIAS.

Isnayanti Gouw: ISNAYANTI Gouw, juga dikenal sebagai Isnayanti Al Yanti, istri Hans Gouw. Ia lahir di Indonesia pada 29 Januari 1969. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika Serikat pada 22 Juli 1999. Ia ikut menangani berbagai urusan di CIAS yang dipimpin suaminya.

Jenny Gandasaputra:JENNY Gandasaputra, yang juga dikenal sebagai Sioe Hoa Gouw atau Jenny Tanudjaja, adalah adik perempuan Hans Gouw. Lahir di Indonesia pada 9 Februari 1953. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika pada 27 Oktober 1999. Ia menikah dengan Herman Tanudjaja, dan tinggal di Fairfax, Virginia.

Dalam CIAS, Jenny duduk sebagai wakil di Pantai Timur. Ia juga menjadi wakil perusahaan Petra International. Anak laki-lakinya, Joandi C. Gani, manajer di perusahaan itu.

Johnson Aliffin:JOHNSON Aliffin, 33 tahun, warga negara Indonesia yang lahir pada 15 April 1971. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika pada 23 April 2001. Aliffin adalah mantan pegawai pada CIAS yang bertugas menangani kasus para klien di organisasi tersebut.

Ratna Sari Hartanto:RATNA Sari Hartanto alias Ai "Laura" Ling adalah warga negara Indonesia berusia 38 tahun yang lahir 17 Juni 1966. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika pada 29 Mei 2001. Ratna, yang sekarang tidak diketahui keberadaanya, mantan pegawai CIAS yang ikut membantu menangani kasus para klien.

Rosita Setyawati:ROSITA Setyawati alias "Budi" adalah warga negara Indonesia berusia 46 tahun. Ia datang ke Amerika pada 26 Januari 2001 dengan visa turis. Pada 1 Agustus 2001, ia mengajukan permohonan suaka politik, tapi kemudian ditarik kembali ketika Pemerintah Amerika mempertanyakan keabsahan kisah yang dijadikan alasan. Pada 14 Oktober 2004, ia mendapat perintah deportasi.Saat ini, status Rosita sebagai objek pemulangan paksa karena melanggar perintah deportasi. Rosita adalah teman kongsi Hans Gouw. Mereka kerap mencari klien orang Indonesia di Philadelphia untuk CIAS. Pada 10 November 2004, Rosita dituntut Pengadilan Virginia dengan tuduhan penipuan pada permohonan suaka politik.

Brigitta Parerra:BRIGITTA Mercy Parerra, alias Gita alias Brigitta Mercy Laihabas alias Maria Yohana alias Yoh Mei En, seorang warga negara Indonesia berusia 35 tahun. Gita mengaku lahir pada 20 Juli 1969. Tapi, ketika menggunakan nama Maria Yohana, ia memberi tanggal lahir dengan tahun berbeda, menjadi 20 Juli 1965.

Menurut data imigrasi, Gita terakhir masuk Amerika Serikat memakai nama Brigitta Parerra pada 18 November 2001, dengan menggunakan visa turis.Permohonan suaka Gita dikabulkan Pemerintah Amerika pada 14 November 2002. Suaka politik ini menggunakan nama Maria Yohana. Pihak berwenang Virginia yakin, Parera tak lain adalah Yohana yang bekerja sebagai sekretaris sekaligus penerjemah CIAS.

Willy Irsan:WARGA Indonesia berusia 33 tahun ini lahir pada 19 September 1971. Ia masuk ke Amerika pada 28 Juli 2000 sebagai turis. Pada 16 Mei 2003, permohonan asilumnya ditolak. Irsan kini menunggu dideportasi. Irsan yang tinggal di 14426 Awbrey Patent Drive, Centreville, Virgnia, dikenal sebagai penerjemah unuk CIAS.

Achnita Supomo:WANITA berusia 37 tahun ini warga Indonesia. Ia istri Willy Irsan. Achnita lahir pada 3 Mei 1967. Ia terakhir masuk Amerika sebagai turis pada 1 Juli 2000. Visanya habis. Kini ia menunggu dideportasi. Ia dikenal sebagai penerjemah untuk CIAS.

Lestari Nugroho:WANITA berusia 28 trahun ini warga Indonesia yang lahir pada 23 Oktober 1976. Permohonan suaka politiknya dikabulkan pada 5 Maret 2002. Ia tinggal menunggu izin permanent resident-nya keluar. Lestari tinggal di Portland, Oregon. Ia wakil CIAS di Pantai Barat. Pada 10 November 2004, Lestari dituntut Pengadilan Virginia dengan tuduhan penipuan permohonan suaka politik.

Raymond Marschall:WARGA Indonesia berusia 26 tahun, lahir 7 Maret 1977, dan masuk Amerika pada 27 Agustus 2000 sebagai turis. Visanya habis, dan Marshcall sedang menunggu dideportasi. Alamat terakhir tercatat di 5506 Great Tree Court, Fairfax, Virginia. Ia pernah menjabat sebagai direktur keanggotaan di CIAS.

Hanny Kembuan:WARGA Indonesia berusia 46 tahun ini dikabulkan permohonan kartu hijaunya pada 19 Januari 1995. Sejak Maret atau April 1995, Hanny adalah perwakilan CIAS yang para anggotanya tinggal di Virginia. April lalu, Hanny sempat terbang ke Indonesia dan kembali ke Amerika pada 19 September 2004 lewat Los Angeles, California. Pada 10 November 2004, Hanny dituntut Pengadilan Virginia dengan tuduhan penipuan permohonan suaka politiknya.

Surya Halim:PRIA berusia 33 tahun warga Indonesia ini dikabulkan permohonan suaka politiknya pada 28 Juni 2002. Ia kini menunggu kartu hijaunya. Fasih berbahasa Inggris dan Indonesia, tinggal di 144226 Awbey Patent Drive,Centreville, Virginia. Ia penerjemah di CIAS.Danny Susanto:PRIA 34 tahun warga Indonesia, dikabulkan permohonan suaka politiknya pada 9 Februari 2004. Kini tinggal menunggu statusnya sebagai permanent resident. Tinggal di 6155 Pohick Station Drive, Fairfax Station, Virginia. Susanto mantan pegawai di CIAS yang mempersiapkan aplikasi asilum. (Gatra) Selengkapnya...

Wednesday, February 08, 2006

Uang adalah pelacur

. Wednesday, February 08, 2006
1 komentar

TOMMY Winata sedang melakoni sebuah pepatah Cina. Nasib orang, kata ungkapan kuno itu, seperti roda pedati: sekali waktu di atas, sekali waktu di bawah. Dulu, ia kerap dijuluki "The Untouchable". Soalnya, selain disebut amat dekat dengan Cendana, bos Grup Artha Graha ini juga punya hubungan intim dengan petinggi militer.

Hari-hari ini, nasibnya sedang bergulir ke bawah. Banjir gugatan menderanya. Beberapa pengusaha mengadukannya telah menjarah bisnis mereka melalui tekanan-bahkan penganiayaan-tentara. Ia juga dituding sebagai tulang punggung Gang of Nine, yang mengendalikan berbagai bisnis ilegal. Empat bulan sudah ia bolak-balik diperiksa Kejaksaan Agung.

Taipan muda ini, 41 tahun, toh tenang-tenang saja. Sambil sesekali bercanda, dengan tangkas ia menjelaskan berbagai tudingan miring itu kepada Dwi Setyo Irawanto, Karaniya Dharmasaputra, dan Wenseslaus Manggut. Berikut petikan wawancara dengannya dua pekan lalu (selengkapnya, baca di TEMPO Interaktif: www.tempo.co.id).

Ada gelombang gugatan dari pihak yang bisnisnya Anda ambil alih?

Saya tidak mengerti apa yang mereka gugat. Saya kira, hukum harus dilihat secara jernih, bukan dengan kacamata Ray-Ban, yang bisa memanipulasi keadaan sebenarnya.
Misalnya, pengaduan penganiayaan dari Effendi Ongko dalam kasus Bank Umum Majapahit Jaya (BUMJ).

Saya tidak pernah merasa melakukan tindakan di luar hukum kepada Saudara Effendi. Beliau adalah kolega orang tua saya. Sumber masalahnya, permainan deposito palsu yang dijaminkan ke Bank Artha Graha (BAG).

Anda meminta aparat menganiayanya di Detasemen Intel Kodam Jaya?

Saya tidak pernah tahu Effendi ditahan. Dia kan bukan pengusaha kemarin sore. Sangat naif beranggapan dia tidak punya kawan untuk melakukan upaya yang bisa menjaga kepentingannya, secara fisik maupun hukum. Kalau benar disiksa, apa buktinya?
Katanya, ia dikeluarkan pada tengah malam, lalu dipaksa meneken perjanjian pengalihan asetnya.

Saat negosiasi, Effendi datang dari Surabaya, didampingi dua pengusaha kenamaan. Semuanya terang-terangan. Ada akta notarisnya. Memang, negosiasinya sangat lama. Itu yang menyebabkan berlangsung sampai tengah malam. Apa ada aturan yang melarangnya?

Jadi, Anda tidak melakukan tekanan apa pun?

Tidak pernah. Saya tidak menuduh, bisa saja untuk cia (makan) kami, flash back saja, lah. Saya meminta Anda melihat reputasinya berbisnis. Dalam kasus BUMJ itu, berapa banyak yang dirugikannya? Apakah namanya pernah terlibat tindakan kriminal pada 1960 atau 1970-an?

Jelasnya bagaimana?

Sudahlah, saya tidak mau menuduh. Kalau dia merasa dirugikan, cepat-cepat saja buat tuntutan.

Gugatan lain dari mantan direksi Bank Artha Prima (BAP) yang ditahan atas perintah Anda?

Itu sama saja. Saya tidak tahu ada stempel apa di kepala mereka tentang saya. Pada 1995, saya ditawari masuk ke BAP, tapi tidak tertarik. Baru pada 1997 kami menerima tawaran Bank Indonesia (BI).

Dan Anda berkolusi dengan pejabat BI?

Coba Anda periksa, berapa kali saya mengunjungi BI. Saat itu, kami diberi kesempatan untuk menyelamatkan BAP. Apa, sih, bedanya dengan sekarang? Dulu diambil alih BI lalu diserahkan kepada kami, sekarang lewat BPPN. Saya tidak habis mengerti, kenapa dituduh melakukan kekerasan dalam pengambialihan BAP. Kalau merasa dipaksa, tunjukkan siapa pelakunya. Toh mereka semua masih sehat, bukan orang hilang. Apalagi, di pihak mereka ada Bambang W. Soeharto, yang aktif di Komnas HAM. Ada upaya menyeret saya ke suatu killing ground

Apa masalah utama BAP?

Kondisinya parah. Ada kredit macet sekitar Rp 670 miliar. Dari jumlah itu, Rp 550 miliar dipakai orang yang dipasang pemegang saham lama. BI mengajukan syarat, kami harus menanggung kredit macet itu. Saya bilang, oke, tapi harus dilihat, sebelum kami masuk sudah ada pengaduan soal promes.

Berapa sebetulnya pinjaman BI yang Anda terima?

Semula, kami meminta kredit Rp 800 miliar. Setelah negosiasi berbulan-bulan, akhirnya disepakati Rp 530 miliar berupa pinjaman subordinasi.

Lo, bukannya Rp 1,2 triliun?

Itu jika dijumlahkan dengan kredit macet yang harus saya tanggung.

Pinjaman BI itu sudah dikembalikan?

Masih kami pakai. Kami hampir tidak pernah menggunakannya. Seluruhnya kita simpan dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia (SBI), sekitar Rp 570 miliar.

Kapan harus dikembalikan?

Saya harus mencicilnya mulai tahun ke-15, dan harus sudah lunas pada tahun ke-25.

Bunganya berapa persen?

Rata-rata 6 persen.

Wah, Anda untung besar, dong.

Waktu itu, bunga SBI sekitar 13-14 persen, dan bunga deposito 18 persen. Ketika terjadi kenaikan suku bunga deposito sampai 85 persen, kami dikunci BI hanya sekian persen. Tapi, terus terang, kita memang mendapat income lumayan. Keuntungan itu kita gunakan memperbaiki BAP.

Apa, sih, yang membuat Anda diperiksa Kejaksaan?

Kejaksaan kan harus menangkap suara apa pun di era reformasi. Dan saya tidak merasa keberatan diperiksa. Sampai sekarang, saya belum tahu hasilnya.

Bisnis Anda begitu pesat karena bantuan militer?

Saya sudah berusaha sejak relatif muda. Memang, ada bantuan dari militer, tapi itu kerja sama resmi. Saya tetap harus mengikuti tender.

Khususnya dari Yayasan Kartika Eka Paksi (YKEP)?

YKEP hanyalah salah satu mitra. Saya sudah bekerja sama dengan Angkatan Darat (AD) sejak 1970-an. Dengan YKEP baru pada 1985.

Awalnya, nilai saham militer lebih besar dari milik Anda. Kemudian, yang terjadi sebaliknya. Jadi, Anda yang memperalat AD?

Itu semua berdasarkan kesepakatan. Win-win solution, lah. Saya kan tidak bisa mengendalikan AD.

Benarkah bisnis Anda jadi tempat pencucian dana dari luar negeri?

Saya ini orang dagang. Saya tidak bisa bilang sepenuhnya tidak bersalah. Tapi, saya tidak pernah dengan sengaja melakukan tindakan melawan hukum. Selama tidak melanggar, saya jalan terus. Saya tidak bilang money laundering itu boleh. Tapi, tolong tunjukkan, apa, sih, pengertian sebenarnya?

Jadi, benar, pesatnya BAG karena dana itu?

Ha-ha-ha.... Misalnya, seseorang membawa sejumlah dana ke Singapura, terus dipindah ke Swiss, lalu ke Hong Kong. Di sana ia mendirikan perusahaan. Labanya lalu dikirim kembali ke Indonesia. Apakah itu money laundering? Uang adalah pelacur paling high class. Asal ada jaminan keamanan dan peluang, dia pasti akan kembali.

Anda juga dikaitkan dengan pembobolan Bank Harapan Sentosa (BHS). Benarkah sehari sebelum likuidasi Anda membeli PT Artha Buana Sakti (ABS), yang menguasai aset BHS?

Saya tidak pernah berhubungan dengan ABS. Yang saya tahu, memang ada utang piutang antara BAP dan BHS. Mereka lalu membayar saya dengan enam lantai Plaza Gajah Mada, Jakarta.

Anda menguasai 20 persen saham ABS?

Tidak benar itu. Kalau ada, nanti saya bagi, ha-ha-ha.... Saya tidak tahu persis teknisnya, apa enam lantai itu dijaminkan dulu sebagai saham atau tidak.

Kasus lain, pemilik tanah di kawasan Sudirman yang Anda bebaskan mengaku tidak dibayar?

Tidak benar itu.

Gugatan Abdul Aziz, misalnya?

Saya kira, itu merupakan opini. Saya tidak mengerti, siapa itu Abdul Aziz. Kalau dia punya bukti autentik, kenapa tidak menempuh jalur hukum?

Kalau gugatan Hartono-Planet Bali?

Hartono meminjam uang dari bank saya. Jika tidak sedikit pun dia membayar bunga pinjaman, apa yang harus saya lakukan?

Anda merekayasa pencabutan izin usahanya?

Tidak benar itu. Pemerintah Daerah Bali membekukannya karena melihat usahanya tidak sesuai dengan izin yang dikeluarkan. Lalu, gua harus tetap membiayainya? Enggak mungkin, dong.

Sumber kami menyebut, Anda adalah tulang punggung Gang Of Nine.

Gang Of Nine? Apa itu? Baru hari ini gua dengar soal itu.

Kabarnya, melalui gang ini Anda mengendalikan jaringan perjudian, penyelundupan, dan narkotik.

Saya tidak pernah terlibat dalam bisnis seperti itu. Apalagi obat-obatan yang bikin fly itu. Apa, sih, namanya? Ecstasy atau Inex, maksudnya? Apa...? Yonex...? Gua enggak tahu, lah. Masa, semua urusan kayak begitu, gua yang jadi taukenya?

Kalau perjudian di Jalan Kunir?

Tolong, Anda cari orang yang mengatakan saya punya saham di sana. Kalau ada, kita kasih ke siapa, lah. Itu kan uang hantu. Jadi, biar tuyul yang memakannya, ha-ha-ha....

Anda kenal Edi Porkas?

Dia saya kenal baik. Nama aslinya Edi Winata. Tapi, ia bukan adik saya.

Anda punya saham di Sumber Auto Graha yang dituding menyelundupkan mobil mewah?

Tidak ada. Kasihan itu si Iwan. Dia tidak pernah memasukkan mobil built-up. Memasukkan dan menjual mobil built-up kan jelas berbeda.

Sejauh mana hubungan Anda dengan Aguan, Haryadi Kumala, Iwan Cahyadi, Yorrys, Arief Cocong, Edi Porkas, Arie Sigit, Jony Kusuma, yang disebut Gang Of Nine?

Iwan itu kawan saya. Yorrys juga. Saya kenal Yorrys pada 1970-an di Irian. Kalau saya susah, dia datang membantu. Kalau dia susah, saya ikut membantu. Aguan itu senior saya. Pak Aguan-lah yang menolong saya pada 1983 dan menjadikan saya mitranya. Haryadi Kumala adalah partner usaha saya sejak dulu. Itu saja.

Orang sering menganggap Anda sebagai mafia.

Terus terang, baru kali ini saya mendengar hujatan yang begini vulgar. Cuma, saya kan tidak bisa selalu mendengarkan kicauan burung gereja. Gua bisa gila.

Pada era Soeharto, bisnis Anda lancar. Sekarang, Anda digoyang, bahkan dicekal.

Saya tidak merasa digoyang-goyang. Kalau dicekal, buat saya itu bagian dari proses hukum. Bahwa saya tidak boleh ke luar negeri, sedikit pun saya tidak keberatan. Saya akan merana kalau diusir ke luar negeri.

Hubungan Anda dengan Habibie bermasalah?

Kata siapa? Saya tidak merasa ditekan Habibie. Apa begitu bernilainya saya sehingga dihadap-hadapkan dengan Pak Habibie? Beliau jadi presiden, perusahaan saya masih beroperasi normal. Bahwa sekarang diperiksa, itu pelajaran buat saya. Dan kalau misalnya dinyatakan bersalah, saya kan punya kesempatan memperbaikinya. Toh saya masih 41 tahun. Selengkapnya...

Modus

TOMMY Winata layak tercatat dalam Guinness Book of Records. Dialah pengusaha yang berhasil membeli sebuah bank dengan harga termurah di dunia. Bayangkan, Tommy membeli saham Bank Artha Prima (BAP) hanya dengan Rp 1 per lembarnya. Total uang yang harus dikeluarkan dari koceknya cuma Rp 35 ribu. Namun, keajaiban belum selesai. Tommy juga mendapat fasilitas kredit lunak Bank Indonesia (BI) sebesar Rp 1,2 triliun untuk membenahi bank itu-kemudian berubah nama menjadi Bank Artha Pratama.

Ingin dengar ceritanya? Pada 1995, PT Gunung Agung punya utang besar yang tak dapat dibayarnya. Perusahaan itu lalu menjual BAP miliknya kepada PT Jagata Primabumi, yang dipimpin oleh Hedijanto, bendahara Yayasan Dharmais, salah satu yayasan Soeharto. Belakangan, diketahui pula bahwa di balik Hedijanto ada nama Kim Johannes-pengusaha asal Medan yang pernah berkongsi dengan Nyonya Tien Soeharto dan Bambang Trihatmodjo.
Dalam kesepakatan, Hedijanto tak perlu membayar Gunung Agung. Dia cukup melunasi utang Gunung Agung ke pihak ketiga. Sial, utang yang dialihkan itu sama sekali tidak dibayar, malah Hedijanto menerbitkan promes (surat pengakuan utang jangka pendek) atas nama BAP senilai Rp 324,2 miliar. Ketika surat berharga itu jatuh tempo dan pihak bank tidak mampu membayar, Hedijanto menyerahkan BAP yang kian babak-belur ke Bank Indonesia, 15 Oktober 1995.

Begitulah kelakuan para pengusaha Indonesia: memerkosa bank habis-habisan, lalu meminta BI (negara dan rakyat) untuk menanggung risikonya.

Pada awal 1997, BI menawarkan BAP kepada Tommy Winata, yang kemudian menerimanya. Menurut Tommy, BAP ini sudah pernah ditawarkan ke Bank Artha Graha miliknya pada 1995, tapi dia mengaku tak tertarik kala itu. Kenapa kali ini dia tertarik?

Dari sisi bisnis sangat mudah dipahami: Tommy hampir tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Hanya sekadar formalitas, dia harus membeli saham BAP senilai Rp 1 rupiah saja. Dan apa imbalan untuk Tommy? Sejumlah media menulis bahwa dalam kesepakatan dengan Hendrobudijanto, direktur pengawasan BI kala itu, Tommy memperoleh kemudahan berupa kredit sebesar Rp 1,2 triliun.

Pinjaman BI itu terhitung sangat lunak: grace period-nya 15 tahun, dengan rentang waktu pembayaran 10 tahun, dan bunganya benar-benar aduhai, yakni 6 persen. Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) kala itu sekitar 13-14 persen, sementara bunga deposito 18 persen. Tak aneh jika Tommy, seperti dia akui sendiri, "mendapat income lumayan" yang "keuntungannya kita gunakan untuk memperbaiki BAP."

Dalam wawancara dengan TEMPO, Tommy mengaku bahwa uang yang benar-benar dia terima hanyalah Rp 530 miliar, yakni fasilitas BI untuk menyehatkan bank yang terpuruk itu. Uang selebihnya, yakni Rp 670 miliar, menurut Tommy, sudah dicairkan oleh pemilik lama.

Namun, bahkan jikapun cerita Tommy ini benar, dia tetap tidak akan menanggung kerugian BI, baik Rp 670 miliar yang dipakai direksi BAP lama maupun promes buatan PT Jagata Primabumi. Pada Juni 1997, Kepolisian Daerah Metro Jaya menahan tujuh mantan direksi dan pemegang saham BAP dari kelompok Gunung Agung. Mereka mengaku diteror secara mental dan dipaksa menandatangani kesepakatan untuk kembali menanggung utang Gunung Agung plus promes yang dikeluarkan Hedijanto.

"Kami benar-benar tak berdaya. Sebab, siapa tidak tahu hubungan antara Hedijanto dan Presiden Soeharto waktu itu?" kata Tanto Sudiro, Direktur Utama Gunung Agung. Mereka juga diancam agar tidak mempersoalkan komitmen tersebut di kemudian hari.

Tanto menuduh Tommy berada di balik semua itu. "Kawan-kawan kami ditangkap setelah Tommy berbicara dengan Kapolda," kata Tanto. Kini, untuk semua perlakuan itu, Gunung Agung menggugat Tommy Rp 1,7 triliun, yang sidang pertamanya digelar awal Mei 1999 lalu.
Tommy membantah tudingan Tanto. Dia bahkan merasa berjasa telah membantu BI menyelamatkan sebuah bank yang kolaps. Setelah diambil alih Kelompok Artha Graha, kata dia, BAP kini menjadi bank yang sehat. "Sekitar 10 persen dari kredit macet BAP bisa kembali lancar. Bahkan, pinjaman BI untuk penyembuhan BAP masih disimpan dalam bentuk SBI," katanya.

Logis saja. Tommy bisa melakukan hal itu berkat fasilitas yang demikian "dermawan" tanpa harus menanggung kerugian BI-kerugian rakyat Indonesia. Selengkapnya...

Kongsi Maut

BARANGKALI tak ada sinergi yang lebih dahsyat dari ini, terutama ketika Soeharto masih kukuh di takhtanya: Tommy Winata yang piawai memutar duit, Cendana sebagai pusat kekuasaan, serta militer yang menggenggam senjata dan penjara. Dan hasilnya adalah sebuah roket bisnis yang melesat ke awang-awang.

Bank Artha Graha :
Yayasan Kartika Eka Pkasi 40%
PT. Cerana Artha Putra 30%
PT. Karya Nusantara Permai 30%
Dewan Komisaris Komisaris Utama: Letjen TNI Sugiono
Wakil Komisaris Utama: Tommy Winata Komisaris: * Sugianto Kusuma * Brigjen TNI Rochdiat, M.M. * Santoso Gunara * Cecilia Limas

PT. Danayasa Arthatama
Yayasan Kartika Eka Pkasi 40%
PT. Tommy Winata 30%
Sugianto Kusuma 30%
Proyek:Sudirman Central Business District (SCBD) di Jakarta Nilai: US$ 3,2 miliar

PT. Satelit Palapa Indonesia (Satelindo):
PT. Graha Jakarta Sentosa 22,5% : JIHD 95%
PT. Bimagraha Telekomindo 22,5% : Kongsi antara Bambang trihatmodjo, Bimantara & Artha Graha
PT. Telkom Tbk 22,5%
PT. Indosat Tbk 22,5%
Deutsche Telekom Mobil Funk 22,5%
Nilai total saham: US$ 2,34 miliar (Mei 1985).
Perusahaan telekomunikasi yang paling komplet, termasuk jasa layanan satelit. Bahkan juga jasa telekomunikasi dasar, yang menurut undang-undang hanya berhak dilakukan PT Telkom.

Jakarta international Hotels & Development (JIHD)* Pemilik Hotel Borobudur, Jakarta * Pemegang saham mayoritas Discovery Hotels & Resorts, Jakarta * Melalui PT Graha Jakarta Sentosa, JIHD menguasai 21,37 persen saham Satelindo

Tommy Winata 15,8%
Sugianto Kusuma 13,37%
Anawin Holding BV 10%
Pemerintah Republik Indonesia 1,33%
PT. Perhotelan & Perkantoran Indonesia 15,8%
Publik & Koperasi 57,8% Selengkapnya...

Perang Antar Mafia

BANKIR tua itu tiba-tiba muncul lagi. Effendi Ongko, mantan komisaris utama Bank Umum Majapahit Jaya, rupanya menyimpan kesumat. Yang dituju jelas: Tommy Winata. Sembilan tahun silam, menurut Effendi, taipan muda itu telah "merampoknya". Ia bahkan mengaku pernah diculik dan dianiaya aparat atas "pesanan" Tommy.

Alkisah, cerita berawal dari penerbitan warkat deposito palsu BUMJ senilai Rp 35 miliar. Itu adalah jaminan utang kepada Bank Artha Graha (BAG) dan BCA. Di antaranya, Rp 16,9 miliar diterima BAG milik Tommy. Yang menerbitkan adalah Lody Djunaedi, menantunya sendiri, yang menjabat kepala cabang BUMJ Surabaya. Menurut Effendi, ulah itu berlangsung tanpa diketahuinya.

Pat gulipat itu terjadi pada 1990. Saat itulah bank kecil ini pingsan dicekik kredit macet Rp 179 miliar, antara lain utang (call money) Rp 66,4 miliar ke 38 bank lain (salah satunya Bank Lippo). Karena tak kunjung siuman, BUMJ ditebas pemerintah pada November 1997 silam.

Singkat kata, setelah disiksa aparat, pada 21 Desember 1990 Effendi bersama istrinya dipaksa menyerahkan pertokoan Wijaya Center Surabaya dan sejumlah aset lain miliknya-yang dikuasai PT Kranggan-kepada Tommy, Suryo Pranoto (BCA), Lili Soemantri (Bank Continental), dan Husein Susilo Tjioe. Akta jual beli fiktif pun diteken di hadapan Notaris Machmudah Rijanto, tengah malam buta, pukul 23.50. Isinya, menurut Effendi, seolah-olah ia melakukan transaksi sejumlah Rp 35 miliar. "Awalnya saya menolak, tapi karena diancam saya terpaksa menekennya," katanya.

Ada soal lain yang digugat Effendi dari perjanjian itu. Pertama, di perjanjian itu Tommy tidak bertindak atas nama BAG. Padahal, yang dipersoalkan adalah utang-piutang antara BAG dan BUMJ. Lalu, menurut taksiran Vigers Indonesia, total nilai aset PT Kranggan adalah Rp 50 miliar, jauh melebihi nilai warkat deposito palsu itu. Effendi lalu menuntut Tommy mengembalikan kelebihannya. Berikutnya, PT Kranggan tidak memiliki kaitan hukum apa pun dengan BUMJ.

Tommy membantah tudingan itu. Menurut dia, kesepakatan itu hasil perundingan kedua belah pihak. Negosiasi berlangsung lama hingga baru diteken larut malam. "Perundingan Indonesia dengan IMF saja diteken pukul tiga pagi," katanya lagi. Tommy balik mempertanyakan reputasi bisnis Effendi. "Bukankah namanya pernah terlibat tindakan kriminal tahun 70-an?" Menurut sebuah sumber, kasus yang dimaksud adalah peredaran uang dan emas palsu. Saat dikonfirmasi, Effendi menyangkalnya.

Yang menarik, Kepala Hukum Kodam Jaya, melalui surat tertanggal 26 Juli 1994, tersirat mengaku pernah "mengamankan" Effendi. Bunyinya, "Penanganan kasus Sdr. Effendy Ongko... telah merugikan Yayasan TNI AD, sehingga Kodam Jaya berkewajiban menyelesaikan permasalahan itu."

Pengaruh Tommy saat itu memang luar biasa. Menurut Effendi, bos Grup Artha Graha itu selalu bilang, "Yang dirugikan adalah Yayasan Kartika Eka Paksi." Effendi juga telah mengadu ke mana-mana. Tak satu pun yang ditindaklanjuti serius. Ia, misalnya, pernah berkirim surat ke Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan saat itu, Sudomo. Melalui surat tanggal 27 Maret 1992, Sudomo hanya sanggup menyarankannya berunding dengan Tommy dan mengadukan penganiayaan itu ke kepolisian. Cuma itu. Selengkapnya...

Tak Tersentuh

MENGAPA pengusaha seperti Tommy Winata begitu penting ditulis majalah ini? Harus diakui, walaupun selama ini anak Pontianak 41 tahun itu lebih gemar bermain di belakang layar, ketokohannya di kalangan bisnis tidak diragukan, lebih-lebih di kalangan bisnis yang bertalian dengan militer, khususnya Angkatan Darat. Tommy?nama panggilan yang suka dipakainya, konon supaya ada yang mengira Tommy Soeharto?boleh dibilang tokoh sentral di bisnis tersebut. Tapi bukan cuma itu alasan majalah ini menulis sosok yang sering diberi gelar "Orang Tak Tersentuh" itu.

Tommy adalah sebuah potret yang mewakili kebiasaan bisnis dari sebuah orde yang hampir berlalu, orde kekuasaan Soeharto. Bos Grup Artha Graha ini dengan cerdiknya meracik tiga kunci sukses: uang, kekuasaan, dan militer. Perpaduan yang menghasilkan power luar biasa untuk melabrak siapa saja, dan bisa dipakai untuk apa saja.

Dengan kekuatan itu, dari kantornya yang megah di sentral kawasan bisnis Sudirman, Jakarta?salah satu kantor dari banyak kantornya?Tommy dengan mudahnya menghubungi semua pejabat penting. Ia punya akses untuk masuk ke Keluarga Cendana. Ia dekat dengan bekas menteri seperti Edi Sudrajat, T.B. Silalahi, Hayono Isman, bekas KSAD Hartono, sampai Rudini. Di Bank Indonesia, bekas pejabat seperti Hendrobudianto juga dikenalnya dengan baik, begitu juga pejabat Bank Indonesia yang lain. Bahkan Tommy punya jalur bagus dengan hampir semua panglima kodam di seluruh Indonesia?antara lain karena aktivitasnya di Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat.

Boleh dikata, dengan semua jajaran militer penting negeri ini, Tommy punya hotline, tinggal angkat telepon. Dan "kebaikan hati" Tommy tak cuma menyangkut urusan organisasi tentara. Di kantornya kerap terlihat perwira militer yang tengah minta bantuan untuk banyak urusan?biaya anak sakit, biaya perjalanan pribadi, biaya "naik pangkat", atau biaya "tak terduga" yang lain. Bagi Tommy, itu seperti "biaya investasi", yang tentu akan "berbuah" ketika si perwira memegang posisi kunci, kelak.

Pertalian Tommy dengan militer sudah terjadi sejak 1972, sewaktu usianya masih 15 tahun. Tak bisa ia bantah bahwa ia besar karena proyek-proyek tentara. Mulanya ia diperkenalkan oleh seorang "seniornya" kepada sebuah instansi militer di Singkawang, Kalimantan Barat. Di sana Tommy membangun sebuah mes tentara dengan biaya Rp 60 juta. Hubungan itu kemudian dibina. Ia kemudian membangun barak, sekolah tentara, menyalurkan barang-barang ke markas tentara di Irianjaya. Tahun 1970-an ia sudah menjadi seorang kontraktor andal dan membangun banyak proyek militer di Irianjaya, Ujungpandang, sampai Ambon.
Sejak mengenal Yayasan Kartika Eka Paksi, lewat PT Danayasa Arthatama yang didirikannya pada 1989, masa keemasan Tommy Winata boleh dikata telah tiba. "Simbiosa mutualisma" antara Tommy dan Kartika Eka Paksi melahirkan proyek raksasa Kawasan Bisnis Sudirman yang memakan investasi US$ 3,25 miliar. Kawasan yang ditargetkan selesai dibangun tahun 2007 itu menjadi kawasan bisnis paling canggih dan lengkap di jantung Kota Jakarta. Sekarang ini, dengan sekitar 30 perusahaan, Tommy sudah merambah ke bisnis perdagangan, konstruksi, properti, perhotelan, perbankan, transportasi, telekomunikasi, sampai realestat.
Sekitar 30 tahun di bawah "asuhan Orde Baru", Tommy Winata benar-benar melambung menjadi seorang bos konglomerat yang disegani lawan dan kawan. Namanya adalah jaminan bisnis paling ampuh. Ia juga tinggal angkat telepon ke Taiwan, Hong Kong, atau Singapura, untuk meminjam dana dari sederet pengusaha Cina perantauan yang sangat mengenalnya. Dari sisi lain, Tommy juga makin menjadi andalan militer dalam hal pencarian dana. Bisnis Kartika Eka Paksi yang bertalian dengan Artha Graha menghasilkan keuntungan tak sedikit, yang antara lain dipakai menghidupi barak-barak tentara di seluruh negeri, dan barangkali juga kegiatan operasi militer. Dalam konteks pemilu kali ini, banyak yang menduga Tommy juga mengucurkan dana untuk partai politik seperti PKP yang dipimpin Edi Sudrajat?walau hal ini dibantah oleh PKP.

Sayangnya, di tengah persaingan dagang, Tommy kerap diberitakan menggunakan kekuatan mitra tentaranya untuk memuluskan langkah. Cerita-cerita Effendi Ongko dari Bank Umum Majapahit Jaya atau kisah Hartono, muncikari kelas nasional yang punya proyek Planet Bali, adalah cerita bagaimana aparat hukum dan aparat keamanan, yang seharusnya menjadi "wasit", akhirnya ikut-ikutan menjadi pemain?dan berpihak kepada Tommy. Mereka dengan mudah "diorder" Tommy untuk mematahkan langkah bisnis lawannya. Dalam kasus Bank Artha Prima, bahkan Bank Indonesia terkesan begitu gampangnya disetir oleh Tommy. Sebuah hubungan bisnis yang sangat tidak transparan, kusut, kolusif, jelas tercium dalam banyak kasus tadi.

Belakangan terdengar kabar, bisnis remang-remang pun mulai dikaitkan dengan nama Tommy Winata?sebutlah perjudian di berbagai sudut Jakarta. Adalah kongsi bisnis Tommy yang disebut sebagai Gang of Nine yang dianggap banyak kalangan menjalankan bisnis terlarang ini?walau lagi-lagi Tommy membantahnya. Tommy menolak dengan tegas disebut mafia, ketika sebutan itu disodorkan majalah ini dalam sebuah wawancara.

Kini, ketika orde akan berganti, kekuasaan sedang tidak berpihak kepada Tommy Winata. Buktinya, Tommy hari ini berada dalam status cekal, dan satu kasusnya tengah disidangkan di pengadilan negeri?tanpa ada perintah untuk membekukan kasus ini dari petinggi militer mana pun, termasuk Panglima ABRI, seperti dulu-dulu. Siapa tahu, Tommy kali ini kurang cermat membaca arah angin. Atau, boleh jadi, para pejabat?sipil maupun militer?sudah pasang jarak karena pergantian orde tadi. Kini, saat reformasi bergulir, lawan-lawan dagang Tommy yang pada masa Orde Baru menerima banyak perlakuan tak pantas?seperti disetrum?bangkit menuntut keadilan.

Kisah Tommy Winata seharusnya membuka semua mata: penumpukan uang, kekuasaan, dan ancaman bedil militer sudah waktunya dijadikan warisan masa lampau?dan dikubur dalam-dalam. Selengkapnya...

Kisah Mafia dan Aksi Teror Bom di Berbagai Tempat

Jawa Pos2003-06-25

Tidak Sedih, Manggut-Manggut dan Tersenyum JAKARTA -Ketua Geng Cowok Keren (Coker) Abner Wemy Loupaty alias Berty, 35, betul-betul membikin orang gemas. Bila anak buahnya sempat menangis ketika dituntut hukuman mati, dia malah tersenyum dan manggut-manggut.

Tak tergambar sedikit pun kesedihan di wajahnya. Tuntutan hukuman mati itu disampaikan jaksa penuntut umum A.M. Djalil, A. Nasrulsyah, dan Zaini dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara kemarin. Sebelumnya, di pengadilan negeri itu juga, salah satu anak buahnya, Abraham Tariola, dituntut hukuman yang sama. Sedangkan seorang lainnya dituntut hukuman seumur hidup. Datang dengan stelan baju merah menyala dipadu celana hitam dan sepatu pantofel, Berty didampingi tiga pengacaranya. Mereka adalah Hotman Sitorus, Loria Hanida, dan Suparno yang tergabung dalam Bob Sadino & Partners. Dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Elang Prakoso, Berty dinilai terbukti terlibat kerusuhan di Maluku.

Dia dan kelompoknya melakukan peledakan bom di sebelas tempat di Kota Ambon, Saparua, Desa Porto, dan Desa Haria di Maluku Utara. Bom yang diledakkan mencapai 100 buah. Jaksa menguraikan, berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, perbuatan tersebut dilakukan sekitar Agustus 2001 sampai Oktober 2002. Lebih rinci jaksa mengatakan, peledakan bom tersebut dilakukan secara terencana. Misalnya, dalam rapat 26 April 2002 di rumahnya, Kuda Mati, Ambon, Berty menyuruh Wellem Manuhutu alias Morgan mengumpulkan tujuh anggota Geng Coker untuk bersiap perang dengan membawa 37 bom rakitan. Kedelapan belas anak buahnya pun meledakkan 11 tempat yang menyebabkan 84 orang tewas, 273 luka, 461 rumah hancur, serta tiga sekolah dasar, dua gereja, dan sebuah rumah adat rusak. "Perintah Berty untuk melakukan peledakan serta pembakaran kota Ambon dan sekitarnya serta Saparua telah menimbulkan rasa takut dan kekacauan serta saling curiga antara masyarakat muslim dan Kristen," urai jaksa. Ada juga hal-hal lain yang memberatkan.

Misalnya, dia mengingkari semua keterangan yang telah dimasukkan dalam BAP oleh polisi. Bahkan, menurut jaksa, dia bersekongkol dengan saksi (terdakwa dalam berkas lain) untuk membuat pernyataan bahwa dia dipaksa membubuhkan tanda tangan pada kertas kosong. Usai sidang, Berty enggan memberikan komentar terhadap tuntutan jaksa. "Ah, jaksa parah, aku tak mau komentar apa pun," kata drop out SD itu singkat. Sementara itu, Loria Hanida menilai, kasus tersebut terkesan sangat direkayasa. Pada saat dilakukan penyidikan, kliennya disiksa. Dia juga disuruh membubuhkan tanda tangan di kertas kosong yang kelak dituangkan dalam BAP.

(wsa) copyright ©2003 Jawa Pos dotcom Selengkapnya...

Mafia dengan Jenderal

Jaringan Sembilan Naga menembus berbagai daerah di Indonesia. Upeti untuk pejabat militer, kepolisian, atau pemda, membuat bisnis ini kian kuat. Jarum jam sudah bergerak ke angka 01.00 WIB, Sabtu dini hari. Malam pun kian larut dan menebar hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun, beberapa sudut Kota Jakarta tetap saja "panas" dan berdenyut. Sebuah siklus sosial yang tetap hidup. Jakarta memang tak pernah "mati" dari kehidupan malam, terutama bagi mereka yang doyan dengan dunia hiburan dan perjudian.

Datanglah ke Kabuki, Hotel Prinsen Park, Kawasan Lokasari di Jakarta Barat. Lalu, Pelangi dan Raja Kota di Jalan Hayam Wuruk, termasuk Raja Mas di Kawasan Glodok, Jakarta Barat. Siapa pun bisa gambling dan mengadu nasib di tempat usaha milik Rudi atau kalangan penjudi sering memanggilnya dengan sebutan Rudi Raja Mas. Cukup dengan menitipkan Rp 1 juta di pintu masuk sebagai deposit, pengunjung bisa terlibat dalam kegiatan di dalam. Pernah menonton film God of Gamblers? Persis begitulah suasana di dalamnya. Ada puluhan meja rolet, kasino, dan ratusan mesin mickey mouse. Puluhan pekerja, dan ada juga puluhan penjaga berbadan tegap dengan rambut potongan cepak. Kabarnya, dari tiga lokasi perjudian itu, Rudi bisa menyedot Rp 5 miliar dana segar per malam. Hitung saja kalau di dikalikan 30 hari. Maka, tak kurang dari Rp 150 miliar per bulan. Hatta, berjudi bukanlah hal yang sulit di Jakarta.

Riwayatnnya memang sudah ada sejak zaman Belanda. Setelah Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan izin judi pada pertengahan tahun 1967, berlombalah orang membuka bisnis yang menurut ajaran agama tergolong haram jadah. Ketika itu para penjudi alias junket sudah menghambur-hamburkan rupiah di beberapa lokasi perjudian. Misalnya di Petak IX, Copacobana, Jakarta Theatre, dan Lofto Fair Hailal. Muncullah beberapa pengusaha Indonesia keturunan Cina yang jadi primadona di bisnis ini. Sebut saja Yan Darmadi. Semasa Gubernur Ali Sadikin, Yan berhasil meraup Rp 1,5 miliar. Selain memiliki saham di empat lokasi perjudian tadi, Yan juga disebut-sebut membuka kasino di Surabaya pada tahun 1980. Konon, seperempat penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Buaya itu berasal dari Yan Darmadi. Tapi, kondisi tersebut tak lama bertahan. Setahun kemudian (1981), Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo mencabut kembali izin tersebut. Toh, jaringan mafia judi di Jakarta bukannya terputus, melainkan malah meluas ke seluruh Indonesia dalam konfigurasi Sembilan Naga. Jaringan ini mirip dengan Triad di Hong Kong dan Makau. Merekalah yang menguasai dan mengatur lokasi perjudian. Mereka membentuk satuan "pengamanan" yang mengikutsertakan jasa centeng amatir sampai jenderal profesional. Kini ada sedikitnya 44 lokasi perjudian di Jakarta (lihat tabel). Mulai dari kelas kakap hingga kelas teri. Dari yang terbuka, seperti toto gelap (togel), sampai yang tertutup (kasino dan rolet). Semua itu bertebaran di setiap sudut Jakarta. Sementara kota-kota besar lainnya, seperti Medan, Riau, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Manado, juga tak kalah gesit. Menurut mantan raja judi Anton Medan, tempat bermain judi terbesar di Jakarta kini ada di Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di situ, beberapa bandar besar seperti Tomy Winata, Engsan, Yasmin, Chandra dan David berkolaborasi membangun usaha dan jaringan. Baik untuk wilayah Jakarta maupun seluruh Indonesia. Termasuk pengaturan upeti bagi sejumlah oknum pejabat tinggi TNI, Polri, Pemda DKI, ormas pemuda dan kemasyarakatan, serta wartawan. Dari lokasi itu, para bandar bisa meraup Rp 10 miliar-Rp 15 miliar per malam. Setelah dipotong modal pemilik saham, sisanya di bagikan ke seluruh jaringan pengamanan tadi. Ada yang per sepuluh hari, per bulan, atau per minggu. Untuk Jakarta, ada sejumlah nama dan kawasan perjudian potensial yang bisa disebut sebagai jaringan "Sembilan Naga" tadi. Selain Tomy Winata, Engsan, Yasmin dan David, masih ada Apow, pemilik rumah judi mickey mouse (MM) di Pancoran (Glodok), Jalan Boulevard (Kelapa Gading), Kasturi di Mangga Besar, Ruko Blok A di Green Garden serta di Jalan Kejayaan, Jakarta Barat. Nah, dari tiga lokasi itu, ia minimal meraup Rp 2 miliar setiap malam. Di beberapa lokasi lain, Apow juga membangun jaringan usaha sejenis dengan Juhua dan Ali Oan di Asemka, Jakarta Barat, serta di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Setingkat Apow, ada Rudi Raja Mas. Nah, taipan ini tergolong hoki. Lokasi kasino, rolet serta MM-nya terletak di Stadium dan Pelangi di Kawasan Hayam Wuruk. Kabuki Hotel Prinsen Park di Lokasari, Jakarta Barat, serta di Jalan Kunir, Jakarta Utara, termasuk yang di Pulau Ayer, juga mulai membawa keuntungan besar baginya. Kabarnya, dari semua itu, ia bisa menarik Rp 10 miliar per malam. Rudi tak sendirian. Untuk usaha di Pulau Ayer misalnya, ia menggaet Haston, Arief, Cocong, Edi P. dan Umar. Sementara untuk lokasi di kompleks perjudian kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Rudi bekerja sama dengan Tomy Winata, Arief, dan Cocong. Dibandingkan dengan lokasi perjudian lain di Jakarta, gedung berlantai dua di Jalan Kunir I ini relatif agak sulit ditembus, terutama bagi mereka yang belum akrab dengan "kaki tangan" pemilik lokasi itu. Selain ditutup dengan pagar seng, tempat usaha itu juga dikawal puluhan tukang pukul. Nah, dari sejumlah lokasi perjudian yang ditelusuri FORUM, permainan kasino memang relatif banyak diminati penjudi. Permainan ini menggunakan piringan berlubang-lubang kecil yang dapat diputar dan dilengkapi dengan sebuah bola kecil. Setiap pemain memasang koin di meja berangka 0-38, yang terbagi dalam tiga bagian berdasarkan kelipatan bayarannya. Bagi pemilik koin yang angkanya sama dengan tempat bola, ialah sang pemenang. Selain jaringan "Sembilan Naga" yang bermarkas di Jakarta tadi, di pentas judi nasional ada beberapa nama lainnya yang juga termasuk dalam jaringan tersebut. Misalnya Wang Ang (Bandung), Pepen (Manado), Dedi Handoko (Batam, Tanjung Pinang dan sekitarnya), Jhoni F. (Surabaya), Olo Panggabean (Medan dan Aceh), dan Firman (Semarang). "Mereka inilah yang menguasai jaringan mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, kabarnya sudah masuk dalam jaringan mafia judi Hong Kong dan Singapura," kata sumber FORUM di Markas Besar Polri. Pasar Atom, Andika Plaza, dan Darmo Park merupakan daerah perjudian elite di Kota Surabaya. Jenisnya kasino dan bola tangkas. Tapi, tak semua orang bisa masuk ke arena itu karena dijaga ekstra ketat. Salah satunya dengan memakai sistem "kartu anggota".

Selain Jhoni F., kabarnya YE alias W, yang dulu tak aktif, kini kambuh lagi. Malah, ia kembali menjalin hubungan dengan Rudi Raja Mas dan Chandra di Jakarta. Rata-rata per bulannya, omzet yang masuk minimal mencapai Rp 5 miliar. Sementara di beberapa kota besar di Sumatra, seperti Medan, Pekanbaru, Palembang dan Jambi, judi buntut sudah beroperasi selama puluhan tahun tanpa hambatan berarti dari aparat keamanan. Di Medan, misalnya, bisnis yang paling terkenal adalah kupon togel Singapura serta permainan judi KIM yang dikelola Olo Panggabean. Mereka mengedarkan kupon-kupon melalui agen setiap Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu. Dalam sekali putaran, Olo kabarnya menerima bersih sekitar Rp 2 miliar.

Operasi mereka berjalan lancar-lancar saja. Kalau pun ada gertakan dari pemerintah, biasanya tak lama kemudian akan "aman" lagi. Pernah sekali waktu, para bandar judi sempat kaget ketika pada Mei 2000, Preiden Abdurrahman Wahid--waktu itu masih berkuasa--menuding Tomy Winata sebagai dalang judi di atas kapal pesiar. Namun belakangan tudingan itu ditarik melalui Jaksa Agung Marzuki Darusman. Pemilik kapal itu, kata Marzuki, adalah Rudi Susanto. Ialah kabarnya yang menggelar perjudian di atas kapal pesiar di lepas pantai teluk Jakarta yang menghebohkan itu. Sumber FORUM menyebutkan, sekali berlabuh, usaha Rudi Susanto tadi bisa mencetak duit sedikitnya Rp 500 miliar bersih. Sayangnya, banjir rupiah yang didapat para bandar judi seperti Rudi Susanto dan kawan-kawannya, jarang sekali disimpan di Indonesia.

"Setelah itu, mereka beli dolar dan langsung mentransfer ke salah satu bank asing di luar negeri," kata sumber FORUM di Bursa Efek Jakarta. Maraknya praktek perjudian di Indonesia tentu tak terlepas dari sebuah riwayat hitam bangsa ini. Apiang Jinggo alias Yan Darmadi adalah pemilik Peta Sembilan dan Kopabana, dan boleh dibilang sebagai raja judi pertama (era Orde Lama). Apiang memang sempat berkibar beberapa tahun, saat Ali Sadikin melegalkan judi di Jakarta. Namun, setelah keluar kebijakan pemerintah yang melarang judi, bisnisnya kabarnya sempoyongan. Tapi, kondisi itu tak berlangsung lama. Meski ada larangan, operasi bawah tanah tetap saja jalan. Nah, generasi kedua, diwarisi Robert Siantar dan Abah.

Sedangkan Sie Hong Lie, Liem Engsan alias Hasan, Apyang alias Atang Latif, serta mendiang Nyo Beng Seng alias Darmansyah, termasuk Anton Medan sendiri, adalah generasi ketiga. "Waktu itu saya menguasai tujuh lokasi di Jakarta. Sisanya di Batam, Jambi dan Medan," kata Anton Medan. Sedangkan Tomy Winata, Rudi Raja Mas, dan sederet nama lainnya tadi adalah pewaris generasi keempat. Di luar nama-nama tadi, masih ada tokoh lain yang beroperasi sampai ke mancanegara. Sebut saja Sie Hong Lie, ia memiliki usaha judi Lotere Phom Penh di Kamboja. Juga peternakan, pacuan kuda, serta bukit timah di Singapura dan Penang, Malaysia. Selain itu, ia memiliki dua kapal pesiar, Delfin Star dan Lido Star, yang bermarkas di Singapura.

Ada lagi nama Apyang, selain mengelola judi di Chrismast Island, Australia, bersama Robby Sumampouw, ia juga membuka bank, properti, dan hotel di Jakarta. Sementara mendiang Nyo Beng Seng punya jaringan judi di Genting Highland (Malaysia), Las Vegas (AS), Macau dan Perth, Australia. Usaha di Indonesia adalah perusahaan rekaman Irama Tara. Mengapa mereka bisa begitu aman dan kuat?

Menurut Anton Medan, semua itu tak terlepas dari jaringan pengamanan alias beking yang dibangun. Biasanya, setiap pergantian pucuk pemimpin TNI, Polri atau Gubernur DKI, para gembong itu kerap mencari jalan masuk sebagai partner. Maklum sajalah, sebagai pemimpin, tentu mereka membutuhkan dana operasional yang tak sedikit. Nah, pundi yang paling aman dan sulit terlacak adalah dari sektor 303 ini.

Uang yang mirip-mirip dana nonbudgeter bagi para pemimpin TNI, Polri, Pemda DKI, tokoh ormas dan OKP, termasuk wartawan, itu justru ada di bandar 303 ini. Akses ke para petinggi itu tidaklah sulit. Sebab, begitu ada sinyal mau dipromosikan sebagai salah satu petinggi, para bandar itu langsung mengirimkan kurir sebagai salam perkenalan. Hubungan itu terus terjalin secara alamiah pula. "Makanya, mustahil kalau ada jenderal yang bilang tak pernah makan duit judi," kata Anton. Upeti yang disalurkan juga tergolong tak sedikit.

Untuk oknum perwira tinggi TNI dan Polri misalnya, perbulan Rp 15 miliar. Sementara setingkat di bawahnya Rp 10 miliar. Turun ke bawahnya lagi, Rp 5 miliar. Begitulah seterusnya. "Itu belum termasuk permohonan bantuan dalam bentuk barang seperti mobil dan komputer," ujar sumber di Mabes Polri. Begitu juga dengan pejabat tinggi di Pemda DKI Jakarta. Masih menurut Anton, upetinya bisa Rp 10 miliar per bulan. Sementara Ketua OKP dan ormas, berkisar Rp 200-500 juta per bulan. "Yang berat itu kan dari kalangan aparat. Mulai dari Polsek dan Koramil hingga jenderal. Dana operasionalnya lumayan besar," kata salah seorang bandar kepada FORUM. Makanya, unjuk rasa masyarakat antijudi tak pernah disambut selayaknya. Maka jangan pernah mimpi, masalah judi tuntas. Yang perlu dicermati Pemerintahan Megawati sebenarnya ialah, menegosiasikan Judi dengan tokoh agama. Daripada hasil judi masuk mulut setan-setan backing judi tadi (cukong, preman dan jenderal korup sebaiknya JUDI dilegalkan saja di Indonesia) Agar pemerintah mendapat tambahan income tak kunjung kering yg dapat membangun fasilitas sosial yang digunakan bagi kepentingan rakyat banyak khususnya yg miskin.

Kita tahu, semua orang ingin matinya masuk sorga. Nah yang tidak ingin masuk sorga silahkan main judi. Gampang kan????? Selengkapnya...

Mafia "Geng Sembilan" di Indonesia

DI dunia remang-remang, nama "Gang of Nine" menjadi legenda. Dibekingi Keluarga Cendana dan petinggi militer, segala sepak terjangnya hampir tak tersentuh. Taipan Tommy Winata-bersama Sugianto Kusuma alias Aguan-disebut-sebut sebagai godfather-nya. Bisnis mereka terentang dari properti hingga judi, dari obat terlarang hingga otomotif.

Benarkah? Dalam wawancara dengan TEMPO, Tommy membantah keras seluruh keterlibatannya di situ. Malah, "Gua baru dengar (nama kelompok itu) sekarang," katanya. Tapi sejumlah sumber, termasuk mantan preman dan bandar judi Anton Medan, mempercayai keberadaannya. Isi perut "Geng Sembilan" berikut ini dirinci berdasarkan keterangan mereka.
Kecuali Tommy dan Yorrys, yang juga membantah, beberapa nama yang ada di sini tidak dapat dikontak oleh TEMPO.

* Tommy Winata
Mengendalikan Bank Artha Graha, yang dulu bernama Bank Propelat, milik Kodam Siliwangi. Bank Artha Graha adalah pilar utama kerajaan bisnis Tommy: Grup Artha Graha.

* Sugianto Kusuma (Aguan) Nama ini mulai dikenal orang ketika pada 1970-an terlibat penyelundupan barang elektronik via Palembang. Dialah yang memperkenalkan Tommy Winata dengan Angkatan Darat atau Yayasan Kartika Eka Paksi semasa Jenderal Edi Sudradjat menjabat Kepala Staf Angkatan Darat. "Pak Aguan adalah senior saya," kata Tommy, "Beberapa keputusan bisnis yang penting selalu saya konsultasikan padanya."

* Yorrys T. Raweyai (Thung Hok Liong)
Ketua Umum Pemuda Pancasila ini bertindak sebagai "panglima" yang mengamankan seluruh operasi jaringan ini di lapangan.

* Arief Prihatna (Cocong) Menurut sumber TEMPO dan Anton Medan, di bidang ini Arief merupakan pemain lama (sejak 1975) urusan memasukan barang lewat pintu belakang. Ia bergabung dengan Tommy sekitar 1985 dan punya jaringan luas di kalangan militer. Seorang mantan karyawati di perusahaan Cocong mengaku bagaimana dia secara rutin mengirimkan "upeti" berupa barang elektronik ke kalangan tentara dan polisi Tak mengherankan, ia mulus memasukkan mobil mewah, barang elektronik, serta obat tradisional (Cina) dari Singapura, Thailand, Taiwan, dan Hong Kong. Arie Sigit (cucu Soeharto) pernah memimpin konsorsium importir obat tradisional ini.

* Edi "Porkas" Winata
Kepada TEMPO, Tommy mengaku kenal baik tokoh ini. Imbuhan nama di tengah muncul karena reputasinya sebagai bandar judi Porkas (perusahaan milik Sigit Hardjojudanto, seperti disebut pula oleh majalah Time pekan lalu). Dia dikenal sebagai "tangan kanan" Tommy dalam bisnis ini. Menurut Anton Medan, beberapa nama berada di bawah lindungan Tommy pula.
Di Jakarta, menurut sebuah sumber, pusat operasi mereka-lewat permainan mickey mouse, rolet, bakarat, black jack, dan lain-lain-adalah Pertokoan Duta Merlin, Jalan Ketapang, dan Jalan Kartini. Belakangan, pusat operasi itu dipindahkan ke Jalan Kunir di kawasan Kota, yang kini dikenal sebagai markas "Konsorsium Judi Indonesia"-jelas bukan nama organisasi resmi-dengan Edi sebagai pemimpinnya.

* Kwee Haryadi Kumala (A Sie) Bersama kakaknya, Cahyadi Kumala (Sui Teng), Haryadi adalah spesialis pembebasan tanah. Anton Medan juga menyebut keterlibatan Teddy Hwat dan Robert Kardinal (saudara Yorrys) dalam urusan tanah ini. Di sektor ini mereka banyak bekerja sama dengan Bambang Trihatmodjo, misalnya di Jonggol dan Sentul. Bahkan, menurut Anton dan sumber TEMPO, beberapa aset Cendana saat ini telah dialihkan ke Tommy Winata: Jonggol (3.200 hektare), Cikarang (5.000 hektare), Sawangan, Sentul, Cikampek, dan perkebunan kelapa sawit di Sumatra Utara (25.000 hektare).

* Arie Sigit
Arie mengenal Tommy lewat pamannya, Bambang Tri. Arie-menurut sumber TEMPO-punya bisnis sampingan menarik, misalnya ekstasi, dengan omzet ratusan miliar per bulan. Tapi, dalam sebuah wawancara dengan majalah Panji beberapa waktu lalu, Arie membantah isu ini dengan tegas. Namun, sebuah sumber menjelaskan bahwa jaringan bisnis itu meliputi Bandung, Medan, Jawa Tengah, Yogya, Surabaya, dan Bali, selain Malaysia dan Australia.
Pemasok utama "komoditas" ini adalah Hong Lie, buron yang dikaitkan dengan pembunuhan Nyo Beng Seng. Hong Lie sekarang bermukim di Hong Kong. Menurut seorang sumber, salah satu lokasi "perakitan" barang terlarang ini, di Tangerang, pernah digerebek polisi pada 1998 lalu, tapi kasusnya lalu dipetieskan.

* Iwan Cahyadi Karsa (Eng Tiong) Melalui PT Sumber Auto Graha (SAG), belum lama ini Iwan membeli 14 ribu unit mobil Timor. Menurut Anton dan sumber lainnya, SAG memperjualbelikan mobil mewah completely built-up yang diselundupkan Arief Cocong.

* Johnny Kesuma Melalui PT Artha Graha Investama, dia adalah orang kepercayaan Tommy di bidang investasi. Johnny adalah adik Aguan. Semula ia mengendalikan PT Amcol Graha Industries, yang pernah memegang lisensi manufaktur Sony. Menurut sumber TEMPO, saat ini ia dicekal. Sebelumnya, ia lebih banyak tinggal di Singapura. Saham Graha Investama juga dimiliki oleh Bakti Investama (dulu milik Mamiek Soeharto). Selengkapnya...

TOMMY Winata sedang melakoni sebuah pepatah Cina. Nasib orang, kata ungkapan kuno itu, seperti roda pedati: sekali waktu di atas, sekali waktu di bawah. Dulu, ia kerap dijuluki "The Untouchable". Soalnya, selain disebut amat dekat dengan Cendana, bos Grup Artha Graha ini juga punya hubungan intim dengan petinggi militer.

Hari-hari ini, nasibnya sedang bergulir ke bawah. Banjir gugatan menderanya. Beberapa pengusaha mengadukannya telah menjarah bisnis mereka melalui tekanan-bahkan penganiayaan-tentara. Ia juga dituding sebagai tulang punggung Gang of Nine, yang mengendalikan berbagai bisnis ilegal. Empat bulan sudah ia bolak-balik diperiksa Kejaksaan Agung.

Taipan muda ini, 41 tahun, toh tenang-tenang saja. Sambil sesekali bercanda, dengan tangkas ia menjelaskan berbagai tudingan miring itu kepada Dwi Setyo Irawanto, Karaniya Dharmasaputra, dan Wenseslaus Manggut. Berikut petikan wawancara dengannya dua pekan lalu (selengkapnya, baca di TEMPO Interaktif: www.tempo.co.id).

Ada gelombang gugatan dari pihak yang bisnisnya Anda ambil alih?

Saya tidak mengerti apa yang mereka gugat. Saya kira, hukum harus dilihat secara jernih, bukan dengan kacamata Ray-Ban, yang bisa memanipulasi keadaan sebenarnya.
Misalnya, pengaduan penganiayaan dari Effendi Ongko dalam kasus Bank Umum Majapahit Jaya (BUMJ).

Saya tidak pernah merasa melakukan tindakan di luar hukum kepada Saudara Effendi. Beliau adalah kolega orang tua saya. Sumber masalahnya, permainan deposito palsu yang dijaminkan ke Bank Artha Graha (BAG).

Anda meminta aparat menganiayanya di Detasemen Intel Kodam Jaya?

Saya tidak pernah tahu Effendi ditahan. Dia kan bukan pengusaha kemarin sore. Sangat naif beranggapan dia tidak punya kawan untuk melakukan upaya yang bisa menjaga kepentingannya, secara fisik maupun hukum. Kalau benar disiksa, apa buktinya?
Katanya, ia dikeluarkan pada tengah malam, lalu dipaksa meneken perjanjian pengalihan asetnya.

Saat negosiasi, Effendi datang dari Surabaya, didampingi dua pengusaha kenamaan. Semuanya terang-terangan. Ada akta notarisnya. Memang, negosiasinya sangat lama. Itu yang menyebabkan berlangsung sampai tengah malam. Apa ada aturan yang melarangnya?

Jadi, Anda tidak melakukan tekanan apa pun?

Tidak pernah. Saya tidak menuduh, bisa saja untuk cia (makan) kami, flash back saja, lah. Saya meminta Anda melihat reputasinya berbisnis. Dalam kasus BUMJ itu, berapa banyak yang dirugikannya? Apakah namanya pernah terlibat tindakan kriminal pada 1960 atau 1970-an?

Jelasnya bagaimana?

Sudahlah, saya tidak mau menuduh. Kalau dia merasa dirugikan, cepat-cepat saja buat tuntutan.

Gugatan lain dari mantan direksi Bank Artha Prima (BAP) yang ditahan atas perintah Anda?

Itu sama saja. Saya tidak tahu ada stempel apa di kepala mereka tentang saya. Pada 1995, saya ditawari masuk ke BAP, tapi tidak tertarik. Baru pada 1997 kami menerima tawaran Bank Indonesia (BI).

Dan Anda berkolusi dengan pejabat BI?

Coba Anda periksa, berapa kali saya mengunjungi BI. Saat itu, kami diberi kesempatan untuk menyelamatkan BAP. Apa, sih, bedanya dengan sekarang? Dulu diambil alih BI lalu diserahkan kepada kami, sekarang lewat BPPN. Saya tidak habis mengerti, kenapa dituduh melakukan kekerasan dalam pengambialihan BAP. Kalau merasa dipaksa, tunjukkan siapa pelakunya. Toh mereka semua masih sehat, bukan orang hilang. Apalagi, di pihak mereka ada Bambang W. Soeharto, yang aktif di Komnas HAM. Ada upaya menyeret saya ke suatu killing ground

Apa masalah utama BAP?

Kondisinya parah. Ada kredit macet sekitar Rp 670 miliar. Dari jumlah itu, Rp 550 miliar dipakai orang yang dipasang pemegang saham lama. BI mengajukan syarat, kami harus menanggung kredit macet itu. Saya bilang, oke, tapi harus dilihat, sebelum kami masuk sudah ada pengaduan soal promes.

Berapa sebetulnya pinjaman BI yang Anda terima?

Semula, kami meminta kredit Rp 800 miliar. Setelah negosiasi berbulan-bulan, akhirnya disepakati Rp 530 miliar berupa pinjaman subordinasi.

Lo, bukannya Rp 1,2 triliun?

Itu jika dijumlahkan dengan kredit macet yang harus saya tanggung.

Pinjaman BI itu sudah dikembalikan?

Masih kami pakai. Kami hampir tidak pernah menggunakannya. Seluruhnya kita simpan dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia (SBI), sekitar Rp 570 miliar.

Kapan harus dikembalikan?

Saya harus mencicilnya mulai tahun ke-15, dan harus sudah lunas pada tahun ke-25.

Bunganya berapa persen?

Rata-rata 6 persen.

Wah, Anda untung besar, dong.

Waktu itu, bunga SBI sekitar 13-14 persen, dan bunga deposito 18 persen. Ketika terjadi kenaikan suku bunga deposito sampai 85 persen, kami dikunci BI hanya sekian persen. Tapi, terus terang, kita memang mendapat income lumayan. Keuntungan itu kita gunakan memperbaiki BAP.

Apa, sih, yang membuat Anda diperiksa Kejaksaan?

Kejaksaan kan harus menangkap suara apa pun di era reformasi. Dan saya tidak merasa keberatan diperiksa. Sampai sekarang, saya belum tahu hasilnya.

Bisnis Anda begitu pesat karena bantuan militer?

Saya sudah berusaha sejak relatif muda. Memang, ada bantuan dari militer, tapi itu kerja sama resmi. Saya tetap harus mengikuti tender.

Khususnya dari Yayasan Kartika Eka Paksi (YKEP)?

YKEP hanyalah salah satu mitra. Saya sudah bekerja sama dengan Angkatan Darat (AD) sejak 1970-an. Dengan YKEP baru pada 1985.

Awalnya, nilai saham militer lebih besar dari milik Anda. Kemudian, yang terjadi sebaliknya. Jadi, Anda yang memperalat AD?

Itu semua berdasarkan kesepakatan. Win-win solution, lah. Saya kan tidak bisa mengendalikan AD.

Benarkah bisnis Anda jadi tempat pencucian dana dari luar negeri?

Saya ini orang dagang. Saya tidak bisa bilang sepenuhnya tidak bersalah. Tapi, saya tidak pernah dengan sengaja melakukan tindakan melawan hukum. Selama tidak melanggar, saya jalan terus. Saya tidak bilang money laundering itu boleh. Tapi, tolong tunjukkan, apa, sih, pengertian sebenarnya?

Jadi, benar, pesatnya BAG karena dana itu?

Ha-ha-ha.... Misalnya, seseorang membawa sejumlah dana ke Singapura, terus dipindah ke Swiss, lalu ke Hong Kong. Di sana ia mendirikan perusahaan. Labanya lalu dikirim kembali ke Indonesia. Apakah itu money laundering? Uang adalah pelacur paling high class. Asal ada jaminan keamanan dan peluang, dia pasti akan kembali.

Anda juga dikaitkan dengan pembobolan Bank Harapan Sentosa (BHS). Benarkah sehari sebelum likuidasi Anda membeli PT Artha Buana Sakti (ABS), yang menguasai aset BHS?

Saya tidak pernah berhubungan dengan ABS. Yang saya tahu, memang ada utang piutang antara BAP dan BHS. Mereka lalu membayar saya dengan enam lantai Plaza Gajah Mada, Jakarta.

Anda menguasai 20 persen saham ABS?

Tidak benar itu. Kalau ada, nanti saya bagi, ha-ha-ha.... Saya tidak tahu persis teknisnya, apa enam lantai itu dijaminkan dulu sebagai saham atau tidak.

Kasus lain, pemilik tanah di kawasan Sudirman yang Anda bebaskan mengaku tidak dibayar?

Tidak benar itu.

Gugatan Abdul Aziz, misalnya?

Saya kira, itu merupakan opini. Saya tidak mengerti, siapa itu Abdul Aziz. Kalau dia punya bukti autentik, kenapa tidak menempuh jalur hukum?

Kalau gugatan Hartono-Planet Bali?

Hartono meminjam uang dari bank saya. Jika tidak sedikit pun dia membayar bunga pinjaman, apa yang harus saya lakukan?

Anda merekayasa pencabutan izin usahanya?

Tidak benar itu. Pemerintah Daerah Bali membekukannya karena melihat usahanya tidak sesuai dengan izin yang dikeluarkan. Lalu, gua harus tetap membiayainya? Enggak mungkin, dong.

Sumber kami menyebut, Anda adalah tulang punggung Gang Of Nine.

Gang Of Nine? Apa itu? Baru hari ini gua dengar soal itu.

Kabarnya, melalui gang ini Anda mengendalikan jaringan perjudian, penyelundupan, dan narkotik.

Saya tidak pernah terlibat dalam bisnis seperti itu. Apalagi obat-obatan yang bikin fly itu. Apa, sih, namanya? Ecstasy atau Inex, maksudnya? Apa...? Yonex...? Gua enggak tahu, lah. Masa, semua urusan kayak begitu, gua yang jadi taukenya?

Kalau perjudian di Jalan Kunir?

Tolong, Anda cari orang yang mengatakan saya punya saham di sana. Kalau ada, kita kasih ke siapa, lah. Itu kan uang hantu. Jadi, biar tuyul yang memakannya, ha-ha-ha....

Anda kenal Edi Porkas?

Dia saya kenal baik. Nama aslinya Edi Winata. Tapi, ia bukan adik saya.

Anda punya saham di Sumber Auto Graha yang dituding menyelundupkan mobil mewah?

Tidak ada. Kasihan itu si Iwan. Dia tidak pernah memasukkan mobil built-up. Memasukkan dan menjual mobil built-up kan jelas berbeda.

Sejauh mana hubungan Anda dengan Aguan, Haryadi Kumala, Iwan Cahyadi, Yorrys, Arief Cocong, Edi Porkas, Arie Sigit, Jony Kusuma, yang disebut Gang Of Nine?

Iwan itu kawan saya. Yorrys juga. Saya kenal Yorrys pada 1970-an di Irian. Kalau saya susah, dia datang membantu. Kalau dia susah, saya ikut membantu. Aguan itu senior saya. Pak Aguan-lah yang menolong saya pada 1983 dan menjadikan saya mitranya. Haryadi Kumala adalah partner usaha saya sejak dulu. Itu saja.

Orang sering menganggap Anda sebagai mafia.

Terus terang, baru kali ini saya mendengar hujatan yang begini vulgar. Cuma, saya kan tidak bisa selalu mendengarkan kicauan burung gereja. Gua bisa gila.

Pada era Soeharto, bisnis Anda lancar. Sekarang, Anda digoyang, bahkan dicekal.

Saya tidak merasa digoyang-goyang. Kalau dicekal, buat saya itu bagian dari proses hukum. Bahwa saya tidak boleh ke luar negeri, sedikit pun saya tidak keberatan. Saya akan merana kalau diusir ke luar negeri.

Hubungan Anda dengan Habibie bermasalah?

Kata siapa? Saya tidak merasa ditekan Habibie. Apa begitu bernilainya saya sehingga dihadap-hadapkan dengan Pak Habibie? Beliau jadi presiden, perusahaan saya masih beroperasi normal. Bahwa sekarang diperiksa, itu pelajaran buat saya. Dan kalau misalnya dinyatakan bersalah, saya kan punya kesempatan memperbaikinya. Toh saya masih 41 tahun. Selengkapnya...

Modus Operandi

TOMMY Winata layak tercatat dalam Guinness Book of Records. Dialah pengusaha yang berhasil membeli sebuah bank dengan harga termurah di dunia. Bayangkan, Tommy membeli saham Bank Artha Prima (BAP) hanya dengan Rp 1 per lembarnya. Total uang yang harus dikeluarkan dari koceknya cuma Rp 35 ribu. Namun, keajaiban belum selesai. Tommy juga mendapat fasilitas kredit lunak Bank Indonesia (BI) sebesar Rp 1,2 triliun untuk membenahi bank itu-kemudian berubah nama menjadi Bank Artha Pratama.

Ingin dengar ceritanya? Pada 1995, PT Gunung Agung punya utang besar yang tak dapat dibayarnya. Perusahaan itu lalu menjual BAP miliknya kepada PT Jagata Primabumi, yang dipimpin oleh Hedijanto, bendahara Yayasan Dharmais, salah satu yayasan Soeharto. Belakangan, diketahui pula bahwa di balik Hedijanto ada nama Kim Johannes-pengusaha asal Medan yang pernah berkongsi dengan Nyonya Tien Soeharto dan Bambang Trihatmodjo.
Dalam kesepakatan, Hedijanto tak perlu membayar Gunung Agung. Dia cukup melunasi utang Gunung Agung ke pihak ketiga. Sial, utang yang dialihkan itu sama sekali tidak dibayar, malah Hedijanto menerbitkan promes (surat pengakuan utang jangka pendek) atas nama BAP senilai Rp 324,2 miliar. Ketika surat berharga itu jatuh tempo dan pihak bank tidak mampu membayar, Hedijanto menyerahkan BAP yang kian babak-belur ke Bank Indonesia, 15 Oktober 1995.

Begitulah kelakuan para pengusaha Indonesia: memerkosa bank habis-habisan, lalu meminta BI (negara dan rakyat) untuk menanggung risikonya.

Pada awal 1997, BI menawarkan BAP kepada Tommy Winata, yang kemudian menerimanya. Menurut Tommy, BAP ini sudah pernah ditawarkan ke Bank Artha Graha miliknya pada 1995, tapi dia mengaku tak tertarik kala itu. Kenapa kali ini dia tertarik?

Dari sisi bisnis sangat mudah dipahami: Tommy hampir tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Hanya sekadar formalitas, dia harus membeli saham BAP senilai Rp 1 rupiah saja. Dan apa imbalan untuk Tommy? Sejumlah media menulis bahwa dalam kesepakatan dengan Hendrobudijanto, direktur pengawasan BI kala itu, Tommy memperoleh kemudahan berupa kredit sebesar Rp 1,2 triliun.

Pinjaman BI itu terhitung sangat lunak: grace period-nya 15 tahun, dengan rentang waktu pembayaran 10 tahun, dan bunganya benar-benar aduhai, yakni 6 persen. Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) kala itu sekitar 13-14 persen, sementara bunga deposito 18 persen. Tak aneh jika Tommy, seperti dia akui sendiri, "mendapat income lumayan" yang "keuntungannya kita gunakan untuk memperbaiki BAP."

Dalam wawancara dengan TEMPO, Tommy mengaku bahwa uang yang benar-benar dia terima hanyalah Rp 530 miliar, yakni fasilitas BI untuk menyehatkan bank yang terpuruk itu. Uang selebihnya, yakni Rp 670 miliar, menurut Tommy, sudah dicairkan oleh pemilik lama.

Namun, bahkan jikapun cerita Tommy ini benar, dia tetap tidak akan menanggung kerugian BI, baik Rp 670 miliar yang dipakai direksi BAP lama maupun promes buatan PT Jagata Primabumi. Pada Juni 1997, Kepolisian Daerah Metro Jaya menahan tujuh mantan direksi dan pemegang saham BAP dari kelompok Gunung Agung. Mereka mengaku diteror secara mental dan dipaksa menandatangani kesepakatan untuk kembali menanggung utang Gunung Agung plus promes yang dikeluarkan Hedijanto.

"Kami benar-benar tak berdaya. Sebab, siapa tidak tahu hubungan antara Hedijanto dan Presiden Soeharto waktu itu?" kata Tanto Sudiro, Direktur Utama Gunung Agung. Mereka juga diancam agar tidak mempersoalkan komitmen tersebut di kemudian hari.

Tanto menuduh Tommy berada di balik semua itu. "Kawan-kawan kami ditangkap setelah Tommy berbicara dengan Kapolda," kata Tanto. Kini, untuk semua perlakuan itu, Gunung Agung menggugat Tommy Rp 1,7 triliun, yang sidang pertamanya digelar awal Mei 1999 lalu.
Tommy membantah tudingan Tanto. Dia bahkan merasa berjasa telah membantu BI menyelamatkan sebuah bank yang kolaps. Setelah diambil alih Kelompok Artha Graha, kata dia, BAP kini menjadi bank yang sehat. "Sekitar 10 persen dari kredit macet BAP bisa kembali lancar. Bahkan, pinjaman BI untuk penyembuhan BAP masih disimpan dalam bentuk SBI," katanya.

Logis saja. Tommy bisa melakukan hal itu berkat fasilitas yang demikian "dermawan" tanpa harus menanggung kerugian BI-kerugian rakyat Indonesia. Selengkapnya...

Mafia dengan Jenderal

Jaringan Sembilan Naga menembus berbagai daerah di Indonesia. Upeti untuk pejabat militer, kepolisian, atau pemda, membuat bisnis ini kian kuat. Jarum jam sudah bergerak ke angka 01.00 WIB, Sabtu dini hari. Malam pun kian larut dan menebar hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun, beberapa sudut Kota Jakarta tetap saja "panas" dan berdenyut. Sebuah siklus sosial yang tetap hidup. Jakarta memang tak pernah "mati" dari kehidupan malam, terutama bagi mereka yang doyan dengan dunia hiburan dan perjudian.

Datanglah ke Kabuki, Hotel Prinsen Park, Kawasan Lokasari di Jakarta Barat. Lalu, Pelangi dan Raja Kota di Jalan Hayam Wuruk, termasuk Raja Mas di Kawasan Glodok, Jakarta Barat. Siapa pun bisa gambling dan mengadu nasib di tempat usaha milik Rudi atau kalangan penjudi sering memanggilnya dengan sebutan Rudi Raja Mas. Cukup dengan menitipkan Rp 1 juta di pintu masuk sebagai deposit, pengunjung bisa terlibat dalam kegiatan di dalam. Pernah menonton film God of Gamblers? Persis begitulah suasana di dalamnya. Ada puluhan meja rolet, kasino, dan ratusan mesin mickey mouse. Puluhan pekerja, dan ada juga puluhan penjaga berbadan tegap dengan rambut potongan cepak. Kabarnya, dari tiga lokasi perjudian itu, Rudi bisa menyedot Rp 5 miliar dana segar per malam. Hitung saja kalau di dikalikan 30 hari. Maka, tak kurang dari Rp 150 miliar per bulan. Hatta, berjudi bukanlah hal yang sulit di Jakarta.

Riwayatnnya memang sudah ada sejak zaman Belanda. Setelah Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan izin judi pada pertengahan tahun 1967, berlombalah orang membuka bisnis yang menurut ajaran agama tergolong haram jadah. Ketika itu para penjudi alias junket sudah menghambur-hamburkan rupiah di beberapa lokasi perjudian. Misalnya di Petak IX, Copacobana, Jakarta Theatre, dan Lofto Fair Hailal. Muncullah beberapa pengusaha Indonesia keturunan Cina yang jadi primadona di bisnis ini. Sebut saja Yan Darmadi. Semasa Gubernur Ali Sadikin, Yan berhasil meraup Rp 1,5 miliar. Selain memiliki saham di empat lokasi perjudian tadi, Yan juga disebut-sebut membuka kasino di Surabaya pada tahun 1980. Konon, seperempat penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Buaya itu berasal dari Yan Darmadi. Tapi, kondisi tersebut tak lama bertahan. Setahun kemudian (1981), Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo mencabut kembali izin tersebut. Toh, jaringan mafia judi di Jakarta bukannya terputus, melainkan malah meluas ke seluruh Indonesia dalam konfigurasi Sembilan Naga. Jaringan ini mirip dengan Triad di Hong Kong dan Makau. Merekalah yang menguasai dan mengatur lokasi perjudian. Mereka membentuk satuan "pengamanan" yang mengikutsertakan jasa centeng amatir sampai jenderal profesional. Kini ada sedikitnya 44 lokasi perjudian di Jakarta (lihat tabel). Mulai dari kelas kakap hingga kelas teri. Dari yang terbuka, seperti toto gelap (togel), sampai yang tertutup (kasino dan rolet). Semua itu bertebaran di setiap sudut Jakarta. Sementara kota-kota besar lainnya, seperti Medan, Riau, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Manado, juga tak kalah gesit. Menurut mantan raja judi Anton Medan, tempat bermain judi terbesar di Jakarta kini ada di Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di situ, beberapa bandar besar seperti Tomy Winata, Engsan, Yasmin, Chandra dan David berkolaborasi membangun usaha dan jaringan. Baik untuk wilayah Jakarta maupun seluruh Indonesia. Termasuk pengaturan upeti bagi sejumlah oknum pejabat tinggi TNI, Polri, Pemda DKI, ormas pemuda dan kemasyarakatan, serta wartawan. Dari lokasi itu, para bandar bisa meraup Rp 10 miliar-Rp 15 miliar per malam. Setelah dipotong modal pemilik saham, sisanya di bagikan ke seluruh jaringan pengamanan tadi. Ada yang per sepuluh hari, per bulan, atau per minggu. Untuk Jakarta, ada sejumlah nama dan kawasan perjudian potensial yang bisa disebut sebagai jaringan "Sembilan Naga" tadi. Selain Tomy Winata, Engsan, Yasmin dan David, masih ada Apow, pemilik rumah judi mickey mouse (MM) di Pancoran (Glodok), Jalan Boulevard (Kelapa Gading), Kasturi di Mangga Besar, Ruko Blok A di Green Garden serta di Jalan Kejayaan, Jakarta Barat. Nah, dari tiga lokasi itu, ia minimal meraup Rp 2 miliar setiap malam. Di beberapa lokasi lain, Apow juga membangun jaringan usaha sejenis dengan Juhua dan Ali Oan di Asemka, Jakarta Barat, serta di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Setingkat Apow, ada Rudi Raja Mas. Nah, taipan ini tergolong hoki. Lokasi kasino, rolet serta MM-nya terletak di Stadium dan Pelangi di Kawasan Hayam Wuruk. Kabuki Hotel Prinsen Park di Lokasari, Jakarta Barat, serta di Jalan Kunir, Jakarta Utara, termasuk yang di Pulau Ayer, juga mulai membawa keuntungan besar baginya. Kabarnya, dari semua itu, ia bisa menarik Rp 10 miliar per malam. Rudi tak sendirian. Untuk usaha di Pulau Ayer misalnya, ia menggaet Haston, Arief, Cocong, Edi P. dan Umar. Sementara untuk lokasi di kompleks perjudian kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Rudi bekerja sama dengan Tomy Winata, Arief, dan Cocong. Dibandingkan dengan lokasi perjudian lain di Jakarta, gedung berlantai dua di Jalan Kunir I ini relatif agak sulit ditembus, terutama bagi mereka yang belum akrab dengan "kaki tangan" pemilik lokasi itu. Selain ditutup dengan pagar seng, tempat usaha itu juga dikawal puluhan tukang pukul. Nah, dari sejumlah lokasi perjudian yang ditelusuri FORUM, permainan kasino memang relatif banyak diminati penjudi. Permainan ini menggunakan piringan berlubang-lubang kecil yang dapat diputar dan dilengkapi dengan sebuah bola kecil. Setiap pemain memasang koin di meja berangka 0-38, yang terbagi dalam tiga bagian berdasarkan kelipatan bayarannya. Bagi pemilik koin yang angkanya sama dengan tempat bola, ialah sang pemenang. Selain jaringan "Sembilan Naga" yang bermarkas di Jakarta tadi, di pentas judi nasional ada beberapa nama lainnya yang juga termasuk dalam jaringan tersebut. Misalnya Wang Ang (Bandung), Pepen (Manado), Dedi Handoko (Batam, Tanjung Pinang dan sekitarnya), Jhoni F. (Surabaya), Olo Panggabean (Medan dan Aceh), dan Firman (Semarang). "Mereka inilah yang menguasai jaringan mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, kabarnya sudah masuk dalam jaringan mafia judi Hong Kong dan Singapura," kata sumber FORUM di Markas Besar Polri. Pasar Atom, Andika Plaza, dan Darmo Park merupakan daerah perjudian elite di Kota Surabaya. Jenisnya kasino dan bola tangkas. Tapi, tak semua orang bisa masuk ke arena itu karena dijaga ekstra ketat. Salah satunya dengan memakai sistem "kartu anggota".

Selain Jhoni F., kabarnya YE alias W, yang dulu tak aktif, kini kambuh lagi. Malah, ia kembali menjalin hubungan dengan Rudi Raja Mas dan Chandra di Jakarta. Rata-rata per bulannya, omzet yang masuk minimal mencapai Rp 5 miliar. Sementara di beberapa kota besar di Sumatra, seperti Medan, Pekanbaru, Palembang dan Jambi, judi buntut sudah beroperasi selama puluhan tahun tanpa hambatan berarti dari aparat keamanan. Di Medan, misalnya, bisnis yang paling terkenal adalah kupon togel Singapura serta permainan judi KIM yang dikelola Olo Panggabean. Mereka mengedarkan kupon-kupon melalui agen setiap Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu. Dalam sekali putaran, Olo kabarnya menerima bersih sekitar Rp 2 miliar.

Operasi mereka berjalan lancar-lancar saja. Kalau pun ada gertakan dari pemerintah, biasanya tak lama kemudian akan "aman" lagi. Pernah sekali waktu, para bandar judi sempat kaget ketika pada Mei 2000, Preiden Abdurrahman Wahid--waktu itu masih berkuasa--menuding Tomy Winata sebagai dalang judi di atas kapal pesiar. Namun belakangan tudingan itu ditarik melalui Jaksa Agung Marzuki Darusman. Pemilik kapal itu, kata Marzuki, adalah Rudi Susanto. Ialah kabarnya yang menggelar perjudian di atas kapal pesiar di lepas pantai teluk Jakarta yang menghebohkan itu. Sumber FORUM menyebutkan, sekali berlabuh, usaha Rudi Susanto tadi bisa mencetak duit sedikitnya Rp 500 miliar bersih. Sayangnya, banjir rupiah yang didapat para bandar judi seperti Rudi Susanto dan kawan-kawannya, jarang sekali disimpan di Indonesia.

"Setelah itu, mereka beli dolar dan langsung mentransfer ke salah satu bank asing di luar negeri," kata sumber FORUM di Bursa Efek Jakarta. Maraknya praktek perjudian di Indonesia tentu tak terlepas dari sebuah riwayat hitam bangsa ini. Apiang Jinggo alias Yan Darmadi adalah pemilik Peta Sembilan dan Kopabana, dan boleh dibilang sebagai raja judi pertama (era Orde Lama). Apiang memang sempat berkibar beberapa tahun, saat Ali Sadikin melegalkan judi di Jakarta. Namun, setelah keluar kebijakan pemerintah yang melarang judi, bisnisnya kabarnya sempoyongan. Tapi, kondisi itu tak berlangsung lama. Meski ada larangan, operasi bawah tanah tetap saja jalan. Nah, generasi kedua, diwarisi Robert Siantar dan Abah.

Sedangkan Sie Hong Lie, Liem Engsan alias Hasan, Apyang alias Atang Latif, serta mendiang Nyo Beng Seng alias Darmansyah, termasuk Anton Medan sendiri, adalah generasi ketiga. "Waktu itu saya menguasai tujuh lokasi di Jakarta. Sisanya di Batam, Jambi dan Medan," kata Anton Medan. Sedangkan Tomy Winata, Rudi Raja Mas, dan sederet nama lainnya tadi adalah pewaris generasi keempat. Di luar nama-nama tadi, masih ada tokoh lain yang beroperasi sampai ke mancanegara. Sebut saja Sie Hong Lie, ia memiliki usaha judi Lotere Phom Penh di Kamboja. Juga peternakan, pacuan kuda, serta bukit timah di Singapura dan Penang, Malaysia. Selain itu, ia memiliki dua kapal pesiar, Delfin Star dan Lido Star, yang bermarkas di Singapura.

Ada lagi nama Apyang, selain mengelola judi di Chrismast Island, Australia, bersama Robby Sumampouw, ia juga membuka bank, properti, dan hotel di Jakarta. Sementara mendiang Nyo Beng Seng punya jaringan judi di Genting Highland (Malaysia), Las Vegas (AS), Macau dan Perth, Australia. Usaha di Indonesia adalah perusahaan rekaman Irama Tara. Mengapa mereka bisa begitu aman dan kuat?

Menurut Anton Medan, semua itu tak terlepas dari jaringan pengamanan alias beking yang dibangun. Biasanya, setiap pergantian pucuk pemimpin TNI, Polri atau Gubernur DKI, para gembong itu kerap mencari jalan masuk sebagai partner. Maklum sajalah, sebagai pemimpin, tentu mereka membutuhkan dana operasional yang tak sedikit. Nah, pundi yang paling aman dan sulit terlacak adalah dari sektor 303 ini.

Uang yang mirip-mirip dana nonbudgeter bagi para pemimpin TNI, Polri, Pemda DKI, tokoh ormas dan OKP, termasuk wartawan, itu justru ada di bandar 303 ini. Akses ke para petinggi itu tidaklah sulit. Sebab, begitu ada sinyal mau dipromosikan sebagai salah satu petinggi, para bandar itu langsung mengirimkan kurir sebagai salam perkenalan. Hubungan itu terus terjalin secara alamiah pula. "Makanya, mustahil kalau ada jenderal yang bilang tak pernah makan duit judi," kata Anton. Upeti yang disalurkan juga tergolong tak sedikit.

Untuk oknum perwira tinggi TNI dan Polri misalnya, perbulan Rp 15 miliar. Sementara setingkat di bawahnya Rp 10 miliar. Turun ke bawahnya lagi, Rp 5 miliar. Begitulah seterusnya. "Itu belum termasuk permohonan bantuan dalam bentuk barang seperti mobil dan komputer," ujar sumber di Mabes Polri. Begitu juga dengan pejabat tinggi di Pemda DKI Jakarta. Masih menurut Anton, upetinya bisa Rp 10 miliar per bulan. Sementara Ketua OKP dan ormas, berkisar Rp 200-500 juta per bulan. "Yang berat itu kan dari kalangan aparat. Mulai dari Polsek dan Koramil hingga jenderal. Dana operasionalnya lumayan besar," kata salah seorang bandar kepada FORUM. Makanya, unjuk rasa masyarakat antijudi tak pernah disambut selayaknya. Maka jangan pernah mimpi, masalah judi tuntas. Yang perlu dicermati Pemerintahan Megawati sebenarnya ialah, menegosiasikan Judi dengan tokoh agama. Daripada hasil judi masuk mulut setan-setan backing judi tadi (cukong, preman dan jenderal korup sebaiknya JUDI dilegalkan saja di Indonesia) Agar pemerintah mendapat tambahan income tak kunjung kering yg dapat membangun fasilitas sosial yang digunakan bagi kepentingan rakyat banyak khususnya yg miskin.

Kita tahu, semua orang ingin matinya masuk sorga. Nah yang tidak ingin masuk sorga silahkan main judi. Gampang kan????? Selengkapnya...

Siapakah Tommy Winata?

Sumber : kompas Senin, 22 April 2002
Banyak orang kenal nama, tapi tak kenal siapa sebenarnya sosok lelaki berumur 43 tahun bernama Tommy Winata ini? Benarkah taipan muda dan digdaya ini sukses berkait dukungan bisnis remang-remang: dari judi, obat bius, hingga penyelundupan? Benarkah ia merupakan salah satu 'Mr Big' dari "Gang of Nine?"- sekelompok orang yang menguasai bisnis remang-remang?

Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Yang jelas, sebagai pengusaha, Tommy termasuk punya kisah sukses. Lelaki berumur 43 tahun kelahiran Pontianak ini termasuk ulet dan tekun, merangkak dari bawah. Meskipun, ia kerap dituding menyumbang bagian yang akut dalam krisis ekonomi dan politik di tanah air. Terutama dalam perselingkuhan bisnis dan kekuatan senjata yang bisa menghasilkan banyak uang secara mudah.

Ketekunannya memang membuahkan. Lewat Grup Artha Graha ("Rumah Uang"), Tommy Winata terbilang mumpuni. Dalam tempo 10 tahun, Tommy bisa mengembangkan imperium bisnisnya.

Pilar bisnisnya adalah properti dan keuangan. Di bawah payung PT Danayasa Arthatama, imperium bisnisnya menjadi jaring bisnis yang terdiri atas 16 perusahaan.
Bos Grup Artha Graha ini punya tiga kunci sukses: uang, kekuasaan dan militer. Perpaduan yang menghasilkan power apa saja dan menghasilkan apa saja.
Karena itu, soal kedekatan Tommy dengan kalangan militer, bukan rahasia lagi. Laporan yang disusun Data Consult mengindikasikan bahwa ekspansi bisnis grup ini memperoleh dukungan dana besar dari yayasan milik tentara-khususnya Yayasan Kartika Eka Paksi.

Dari kantornya yang megah di kawasan bisnis Sudirman itu, Tewe-demikian panggilan akrab taipan ini, dengan mudah bisa menghubungi hampir semua panglima kodam di seluruh Indonesia-antara lain karena aktivitasnya di Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat.
Kedekatan Tommy dengan militer sudah terjadi sejak 1972, saat ia berusia 15 tahun. Mulanya,ia diperkenalkan oleh seorang seniornya kepada sebuah instansi militer di Singkawang, Kalimantan Barat. Di sana, Tommy membangun sebuah mess tentara dengan biaya Rp 60 juta.
Hubungan itu kemudian dibina. Selain mess, ia membangun barak, sekolah tentara, menyalurkan barang-barang ke markas tentara di Irian Jaya. Hingga akhirnya di era tahun 1970 -an, ia menjadi seorang kontraktor yang andal dan membangun proyek militer di Irian Jaya, Ujung Pandang sampai Ambon.

Seperti Liem yang bertemu Soeharto atau Bob bertemu Gatot Soebroto, Tommy, anak miskin yatim piatu itu beruntung mengenal Jenderal Tiopan Bernard (T.B.) Silalahi, mantan Sekjen Departemen
Pertambangan dan Energi serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dalam Kabinet Pembangunan VI Soeharto.

Berkait Silalahi-yang hingga kini menjadi tokoh kunci dalam Grup Artha Graha-Tommy memulai bisnis dengan memperoleh order pembangunan barak-barak asrama militer di Irianjaya, ketika dia berusia 15 tahun. Di Irian itu pula dia berkenalan dengan Yorrys Raweyai, Ketua Pemuda Pancasila-sebuah organisasi yang dikenal memiliki hubungan khusus dengan militer.
Sejak mengenal Yayasan Kartika Eka Paksi, lewat PT Danayasa Arthatama yang didirikannya pada tahun 1989, masa keemasan Tommy pun tiba. Proyek raksasa kawasan Bisnis Sudirman yang dilahirkan Tommy dengan memakan investasi US $ 3,25 miliar itu bakal menjadi kawasan paling canggih dan diduga bakal meraup untung miliran juta dollar. Tommy pun merambah ke bisnis perdagagan, konstruks, properti, perhotelan, perbankan, transportasi, telekomunikasi sampai real estate.
Akibat kesuksesan kongsi inilah, Tommy andalan militer dalam hal cari dana. Bisnis Kartika Eka Paksi yang bertalian dengan Artha Graha menghasilkan keuntungan tak sedikit yang antara lain untuk menghidupi barak tentar di seluruh negeri dan kegiatan operasi militer.
Kisah kedigdayaan Tommy menuai kontroversi. Sejumlah patner dan pesaing bisnisnya, menuding Tommy memanfaatkan militer untuk memudahkannya berbisnis. Seperti dituding Effendi Ongko dari Bank Umum Majapahit Jaya atau kisah Hartono, muncikari keals nasional dalam proyek Planet Bali adalah kisah bagaimana cara Tommy mematahkan lawan bisnisnya.
Belakangan, terdengar kabar, bisnis remang-remang- sebutlah perjudian di sejumlah sudut di Jakarta- ataupun di sejumlah pulau di kawasan pulau seribu, terkait dengan Tommy Winata. Bisnis sampingan Tommy: perjudian, obat bius, dan penyelundupan sebagaimana dilansir sumber TEMPO di tahun 1999, mengatakan bahwa Tommy adalah satu dari sembilan tokoh ("Gang of Nine") dalam bisnis gelap itu-bisnis yang ada bahkan merajalela, tanpa aparat keamanan pernah bisa memberantasnya. Tokoh lain dalam bisnis ini, menurut sumber-sumber tadi, meliputi nama-nama seperti Yorrys sendiri, Edi "Porkas" Winata, dan Arie Sigit Soeharto.
Namun kepada TEMPO saat itu, Tommy menolak dengan tegas disebut Mafia. Ia juga menolak disebut-sebut sebagai tulang punggung kelompok ini.
Mantan presiden Abdurrahman Wahid pun dalam sebuah diskusi publik dengan terang-terangan menyebut bahwa Tommy adalah cukong dari bisnis perjudian di kawasan Pulau Ayer (di Kepulauan Seribu). Malah dirinya telah memerintahkan Kapolri saat itu Rusdihardjo dan Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk menutup pulau itu dan menyita kapal pesiar yang digunakan untuk perjudian ditahan.
"Begitu juga saya dengar, di dekat situ ada kapal laut yang dipakai untuk berjudi. Lagi-lagi ini melanggar hukum, karena ada cukongnya, yaitu Saudara Tommy Winata. Saya minta kepada Jaksa Agung untuk menyita kapal itu dan menangkap Tommy Winata, karena ia melanggar hukum. " demikian Gus Dur.
Kini, ketika bisnis perjudian bakal dilegalkan dan dilokalisasi, nama Tommy kembali mencuat. Tak hanya soal bakal ditutupnya sejumlah tempat perjudian ilegal di sudut Jakarta, tetapi karena telah bertemu dengan Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati dan Bupati Kepulauan Seribu, Abdul Kadir di sebuah pulau seribu.
Meski kepada Koran Tempo ia membantah membicarakan soal ini, namun toh pertanyaan publik tetap saja bakal menganggu. Kenapa pertemuan digelar di saat sejumlah investor - sebut Bupati Abdul Kadir telah melirik bisnis ini? wda dari berbagai sumber Selengkapnya...

 

They Rob Us: Indonesia

Corporate Crime

Followers

Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Edited by Triad