breaking

&Sabu

&Sabu

&Networks

&Networks

&Criminality

&Criminality

✦ ✦ Unlabelled ✦ Hokiau's Policy of Pro-Discrimination

Share This

Re: [t-net] Re: Diskriminasi Menimpa Pribumi
Jim Hubby
Thu, 19 May 2005 20:24:25 -0700

Diskriminasi itu ada dua macem.

Diskriminasi negara dan diskriminasi swasta. Diskriminasi negara itu nggak
boleh. Kan negara bukan punya siapa siapa.

Diskriminasi swasta tergantung. Sepintas lalu kelihatannya ya sah sah saja.
Saya sih tidak akan melakukan discriminasi. Wong tidak menguntungkan. Tapi
kalo yang punya toko bukan saya, ya itu hak dia buat mendiskriminasikan.

Kalo saya di Amrik,ada orang nggak mau mempekerjakan orang Cina, ya tulis
aja nggak mau. Saya cari kerja tempat lain, atau bisnis.

Akan tetapi saya setuju kalo diskriminasi swasta juga dilarang dalam kasus
tertentu. Yaitu kalo negara ikut campur dalam bidang ekonomy yang
mempersulit orang bisnis dan mempermudah orang kerja. Kalo pekerjaan itu
implisit welfare, nggak cengli dong kalo yang dapet bule doang, si item
nggak kebagian.

Kalo orang bisnis gampang, orang pribumi yang didiskriminasikan di
pekerjaan tinggal bisnis. Kalo bisnis sulit karena korupsi dan perijinan.
Udah gitu disekolah, orang nggak diajar bisnis. Diajarnya kerja. Ya orang
pribumi di diskrimnasikan di pekerjaan mau gimana? Nggak cengli dong?

Saya menganjurkan kita semua bisnis. Dalam bisnis hampir nggak ada tuh
diskriminasi. Saya bisnis ama orang india, bule, cina, amrik, pribumi,
banyak kok yang baik baik aja asal kita fair. Ada sih pebisnis yang menurut
saya rasist. Ya saya jauh jauh aja dari mereka. Gampang kan?

Saya juga menganjurkan kalau pemerintah menggunakan dana social secara
adil. Dari pada dipake buat bikin jalan atau sekolah, bagiin aja tiap orang
dapet $100 gitu tiap taon. Lalu suruh dagang. Ntar pasar ngatur sendiri.
Yang pinter bakal kaya. Yang geblek males miskin sendiri. Udah gitu seks
nggak usah diatur atur. Ntar coiwok kaya ceweknya banyak keturunannya
banyak. Yang geblek males punah sendiri.

Semua itu pasar udah ngatur sendiri coi...

Jim

>Tulisan tentang pribumi yang didiskrimasi di BCA dan LIPPO yang diposting
>bung Nana Sutrisna sangat menarik untuk direnungkan. Selama ini di t-net
>lebih banyak dibicarakan tentang Tionghoa yang didiskriminasi, tapi
>rupanya Tionghoa tidak hanya "didiskriminasi" tapi juga "mendiskriminasi".
>
>Pertanyaannya jadi "siapa mendiskriminasi siapa" ? Pertanyaan lebih
>lanjutnya lagi "diskriminasi ini sebenarnya binatang apa" ? Paradoks yang
>menarik.....
>
>Paradoks yang membingungkan sebenarnya membungkus fenomena diskrimasi
>Tionghoa di Indonesia ini. Diskriminasi berkaitan dengan hegemoni,
>ringkasnya yang kuat mendiskriminasi yang lemah. Lalu kalau yang lemah
>mendiskriminasi yang kuat apakah itu masih bisa digolongkan diskriminasi ?
>Apakah ini bukan semata-mata mekanisme mempertahankan diri supaya yang
>lemah ini tidak akhirnya terus tertekan dan akhirnya punah ?
>
>Kalau ditilik dari interaksi "minoritas vs mayoritas". Tionghoa jelas
>minoritas. Tapi kalau ditinjau dari sudut interaksi "lemah vs
>kuat"....apakah Tionghoa bisa disebut lemah ? Yang sedikit belum tentu lemah.
>
>Barangkali sebuah kejadian yang saya alami beberapa tahun yang lalu bisa
>menjadi ilustrasi. Waktu itu saya mendatangi teman saya seorang suku Batak
>yang sedang mengerjakan proyek interior sebuah kantor. Ketika meninjau
>proyeknya teman saya tiba-tiba menarik tangan saya ke sebuah sudut,
>katanya dia mau menunjukkan sesuatu. Yang ditunjukkannya membuat saya
>tertawa geli. Dia begitu tergopoh-gopoh menarik tangan saya hanya karena
>akan menunjukkan bahwa salah satu tukang cat yang bekerja di proyeknya itu
>adalah seorang Tionghoa......
>
>Ada presepsi di kepala teman saya yang Batak itu yang terbentuk dari
>pengalaman sehari-hari sepanjang hidupnya. Mayoritas kliennya, atau bisa
>disebut sebagai "orang yang memperkerjakan dia" adalah Tionghoa.
>Barangkali Tionghoa paling miskin yang pernah dijumpainya adalah saya,
>seorang yang posisi tawar sosialnya masih setara dengan dia. Maka ketika
>dia punya seorang tukang cat, yang dalam hirarki kerja jauh di bawah
>kedudukannya teman saya ini jadi begitu terpana. Teman saya ini
>menunjukkan tukang catnya itu kepada saya dengan pesan tersirat "ini nih,
>gue punya tukang cat yang cina, kayak loe. Nggak cuman loe yang bisa punya
>pegawai Batak, gue juga bisa punya pegawai cina".....Dan ini sesuatu yang
>istimewa buat dia, kenapa ? karena dari pengalaman kesehariannya terbentuk
>presepsi di kepalanya bahwa Tonghoa itu "kuat".
>
>Sebuah paradoks, siapa meng-hegemoni siapa ? Siapa mendiskriminasi siapa ?
>Enigma.....enigma....
>
>"Perlakuan berbeda" pada regulasi formal yang diterapkan pada Tionghoa
>memang harus diakui keberadaannya, tapi jika kita berpikir lebih dalam
>"perlakuan berbeda" ini apakah "diskriminasi" atau "mekanisme
>mempertahankan diri dari yang kuat" ?
>
>Taruhlah misalnya "perlakuan berbeda" ini dirasa merugikan Tionghoa,
>apakah bijaksana bila Tionghoa berteriak dengan naif agar regulasi
>"diskriminatif" itu dihapuskan, seperti yang selama ini banyak terdengar ?
>
>Saya teringat sebuah novel sejarah Jepang "TAIKO" bikinan Eiji Yoshikawa
>yang berkisah tentang para pimpinan militer Jepang (shogun) pada jaman Edo
>atau pada masa embrio Jepang modern. Novel ini saya baca sekitar 10 tahun
>yang lalu jadi saya hanya mengingat intinya saya yang menurut saya menarik.
>
>Novel itu bercerita tentang 3 pemimpin besar Jepang yaitu Nobunaga,
>Tokugawa dan Hideyoshi. Tiga orang ini punya karakter kepribadian yang
>berbeda. Ilustrasi untuk membedakan karakter tiga pribadi ini adalah
>sebagai berikut :
>
>Bila ada seekor burung yang tidak mau berkicau dan pada ketiga pemimpin
>ini ditanyakan bagaimana harus menanganinya maka jawabannya adalah :
>Nobunaga : Bunuh saja burung itu
>Tokugawa : Tunggu sampai burung itu mau berkicau
>Hideyoshi : Buat burung itu mau berkicau
>
>TAIKO memang lebih banyak berkisah tentang Hideyoshi yang memang punya
>karakter unik. Orangnya kecil, wajahnya buruk seperti monyet, dari latar
>belakang non-samurai yang miskin. Tapi dalam menyelesaikan masalah dia
>selalu taktis. Bahkan musuh bisa diubah jadi sekutu, tanpa pertempuran
>sama sekali. Sangat berbeda dengan Nobunaga, atasan Hideyoshi, yang mati
>bunuh diri justru karena salah satu anak buahnya memberontak dengan alasan
>konyol yaitu sakit hati, sebuah mis-manajemen yang berakhir tragis. Dan
>memang Hideyoshi lah yang paling berjaya diantara tiga shogun itu dan
>membangun dasar-dasar peradaban bagi Jepang modern.
>
>Tiga karakter tersebut bisa menjadi cermin bagaimana Tionghoa mau
>mmenyelesaikan persoalan "perlakuan berbeda" pada regulasi formal di
>Indonesia. Apakah mau dengan cara Nobunaga, Tokugawa atau Hideyoshi ?
>
>Apakah Tionghoa di Indonesia ini mau jadi komunitas yang dibenci,
>dikasihani atau dihormati ? Jawabnya terletak di tangan Tionghoa sendiri.
>
>
>
>
>Demikiyan
>Daniel Pramono Rahardjo
>
>
>From: nana sutrisna <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Sun May 15, 2005 8:03 pm
>Subject: Diskriminasi Menimpa Pribumi
>
>Karyawan BCA Se-Kedu Unjuk Rasa
>
>
>
>Karyawan BCA (Bank Central Asia) Magelang dan tujuh cabang pembantu se-eks
>Karesidenan Kedu, Kamis kemarin (9 Juli 1998) unjuk rasa memprotes perlakuan
>pimpinan perusahaan yang membedakan karyawan pribumi dan warga keturunan
>China.
>"Meski pangkat dan jabatan sama, gaji belum tentu sama. Gaji karyawan warga
>keturunan pasti lebih banyak, juga fasilitas yang diberikan," ujar seorang
>karyawan.

About media

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

2 comments:

xiau pau said...

Memang menulis sebuah artikel tanpa memperhatikan kejadian sebenarnya memang mudah.

Sebagai orang keturunan di indonesia, nasibnya memang seperti telur diujung tanduk, belum kena masalah agama, kebebasan bersuara, kini terkena masalah diskriminasi.

Saya rasa memang dibeberapa tempat usaha ada praktek yang seperti ini, tapi jangan dibilang ini hanya untuk orang keturunan saja.

Bayangkan usaha milik "pribumi asli" terutama di pulau jawa, nasib orang keturunan akan sama persis dengan orang pribumi yang anda sampaikan bekerja di perusahaan milik keturunan.

Ngak akan salah, coba dilihat di bank-bank bernuansa syariah dan perusahaan-perusahaan milik pribumi asli, hampir tidak ada orang keturunan yang bekerja disana.

Menanggapi masalah gaji orang keturunan yang dirasa lebih tinggi.
He he he, boro-boro uangnya cukup atau lebih untuk hidup. Uang lebih itu digunakan untuk biaya hidup mereka aja udah pas-pasan, ini memang benar-benar pengakuan nyata.

Untuk urusan ktp,paspor, kartu keluarga, ngurus sekolah anak saja untuk orang keturunan dibutuhkan biaya extra yang jumlahnya bukan kecil. Nah kalau hal ini diitung-itung apa ngak sama dengan yang diterima?

Saya sudah seringkali menjumpai hal-hal semacam ini. Banyak orang birokrat yang korup, mempersulit warga keturunan, yang mereka anggap sebagai sapi perahan mereka. Maunya cari uang sampingan terus.

Ya jelas saja, hal ini memaksa mereka untuk meminta gaji yang lebih, diikuti dengan tanggung jawab yang lebih tinggi. (apa gaji lebih tinggi tidak sebanding dengan tanggung jawab yang diberi???)

Sekali lagi ini kisah nyata, dalam prakteknya, mau ditanyakan kepetugasnya sekalipun mereka memang akan berkata: "Ngak ada diskriminasi, semua sama", (yee bego). Coba liat kenyataannya, mulai dari SKBRI, hak pembelian atas tanah dan rumah, yang terus merembet sampai dengan akta kelahiran. Belum lagi masalah tempat ibadah.

Belum pernah sama merasakan adanya persamaan, belum lagi mereka disalahkan karena tidak melakukan pembauran, siapa yang mau membaur, siapa yang tidak membaur?

Jadi sebenarnya yang patut di tulis adalah "praktek diskriminasi di indonesia terhadap warga keturunan, baik sektor negara dan swasta dan kebebasan beragama"

Cara berfikir dan pemaksaan yang dilakukan oleh oknum-oknum diindonesia merupakan hal-hal yang menyebabkan mereka menutup diri, memicu usaha yang baru, meningkatkan daya jual sehingga menyebabkan adanya gab dalam lingkungan kerja dan bernegara.

HERMANTO said...

SEBENARNYA DISKRIMINASI DI BANK PEMERINTAH JUGA KUAT. HAMPIR TIDAK ADA ATAU SEDIKIT SEKALI WNI KETURUNAN CINA YANG JADI PEGAWAI BANK PEMERINTAH.
CARANYA AGAR DISKRIMINASI HILANG.
PEMERINTAH HARUS MEMBUAT PERATURAN SEADIL ADILNYA SESUAI HAK ASASI MANUSIA DI SEGALA BIDANG.
MANUSIA HARUS HIDUP SESUAI FITRAH ALLAH. ADIL DI PERATURAN PEMERINTAH DAN ADIL DI HATI DIRI SENDIRI.
DOSA BESAR KALAU KITA MEMBEDAKAN SETIAP ORANG MENURUT RUPA , KETURUNAN DAN LAINNNYA.
ANDA AKAN HIDUP SUSAH DAN MASUK NERAKA JAHANAM KALAU ANDA MEN DISKRIMINASIKAN CIPTAAN TUHAN MANUSIA MAUPUN BINATANG. SEMUA HARUS DIKASIHI, KARENA SEMUA CIPTAAN TUHAN DAN INGIN HIDUP BAHAGIA.
JANGAN MEMBUAT KEJAHATAN DI HATI SAUDARA. DENGAN BERPIKIR DISKRIMINASI.